Monday, November 1, 2010

Menikmati Hidangan Italia di Pantai Kuta Selatan

People will envy you when you are in Envy. Hangout place yang tengah happening di kawasan Jalan Wana Segara,Tuban. Tempat memadukan rangkaian menu kuliner yang menerbitkan selera serta hiburan khas eksekutif muda berlatar belakang keindahan pantai Selatan Kuta. Bagi yang suka suasana romantis, bisa memilih area di pinggir pantai ditemani serangkaian cocktail, pizza atau serangkaian finger foods pilihan sambil berleha-leha di atas sofa cabanas nyaman yang menghadap ke laut. Segelas Mojito dan Espresso Martini menjadi favorit saya. Kesegaran mojito bercampur biji markisa terasa segar disesap di sore hari. Sementara Espresso Martini membuat mata langsung melek. Pekat rasa espresso mengimbangi martini. Sulit bagi saya untuk meletakkan minuman ini setelah tegukkan pertama. Sebatang tebu dimasukkan ke dalam gelas sebagai pengaduk dan diakhir tegukan, ggigit dan serap manisnya tebu. What a perfect ending.

Sebagai pecinta sunset, saya sangat menikmati bersantai sambil menikmati musik yang mengundang tubuh bergoyang, bisa memilih area bar. Alunan musik pilihan DJ Aan memberi irama yang memeriahkan suasana sore dan malam di pinggir pantai. Menjelang malam, area bar dan taman lokasi yang sempurna untuk menyantap makan malam dengan makanan khas Italia yang diracik chef Christfian Surjanto yang menimba ilmu di Alma Cooking School. Pizza-nya is so delicious. Kulit pizza yang tipis dan renyah dengan topping yang kental dengan citarasa Italia terlalu sayang untuk dilewatkan. Teman saya yang tidak kenyang hanya dengan tiga potong pizza lebih memilih makan steak. Well, in this resto, the steak is just delicious and juicy. My medium rare steak is just perfecto. Delicioso.

Envy

Holiday Inn Resort Baruna Bali

Jalan Wana Segara No.33

Kuta Selatan

Telp : (0361) 752 527

Buka : 11.00-24.00

Harga : Rp.30.000-Rp.250.000

Tuesday, October 19, 2010

Pulau Macan : A Step Away Paradise






Bola api berwarna oranye itu membakar langit. Tampak kontras dengan langit yang berwarna biru jernih. Perlahan-lahan bola api itu tenggelam dan menyisakan semburat warna oranye dan keunikan yang sangat cantik. Lima belas pasang mata, menatap langit tanpa berkedip. Terduduk dalam diam sampai akhirnya semburat warna yang menerangi langit di depan mata benar-benar menghilang dan menyisakan kegelapan. Saatnya Bob Marley dan Imanes beraksi mendendangkan lagu reggae sambil menenteng sekaleng bir dingin dan tertawa bersama teman-teman

Dermaga 6, Marina Ancol masih terlihat sepi. Waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi. Sepasang ekspatriat duduk di bangku plastik sambil mengobrol sementara seorang pemuda Jepang asyik mendengarkan lagu dari Ipod tanpa memedulikan sekitarnya. Sementara tiga orang perempuan asyik ngobrol sambil tertawa-tawa. Tepat pukul delapan pagi, semua berjalan menuju speed boat yang membawa rombongan ke pulau Macan yang ditempuh dengan waktu 1,5 jam. Kalau udara sedang cerah, perjalanan dilalui dengan mulus, tapi kalau cuaca mendung dan hujan, siap-siap menghadapi benturan-benturan. Begitu kapal merapat ke dermaga, sebuah pulau kecil yang bersahabat tampak di depan mata. “Sulit rasanya percaya, kami sekarang berada selangkah dari Jakarta. Tempat ini sangat indah,” ungkap Rob dan Kate, pasangan suami istri asal Inggris yang baru dua bulan tinggal di Jakarta ini. Untuk mengelilingi pulau hanya memerlukan waktu 5 menit saja. Pohon-pohon yang hijau melindungi dari sengatan sinar matahari. Setelah mengelilingi pulau dan beristirahat sambil melahap sandwich vegetarian yang lezat dan meneguk segelas jus buah, saatnya menaruh tas ke dalam kamar.

Kurang lebih ada 10 kamar yang disediakan dan bisa menampung 35 orang. Kamar paling mengesankan Sunset Suite yang berada di dek yang menghadap ke pantai. Dari dek ini, Anda bisa menikmati sunset yang indah. Kasur berkembu dengan bantal dan guling siap menemani Anda tidur. Buka tirai jika ingin angin masuk lebih banyak. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Untuk penghematan energi, sebaiknya kipas dinyalakan saat Anda benar-benar memerlukannya. Selain Sunset Suite, ada juga kamar lain yang menyerupai panggung yang menghadap ke pantai dengan ukuran yang lebih kecil. Ingin lebih menyatu dengan alam, Anda bisa memesan tenda yang dilengkapi dengan kasur dan bantal yang menjamin kenyamanan. Ada beberapa spot yang sudah disiapkan khusus untuk tenda. Kamar mandi berada tidak jauh dari pondok yang Anda pilih. Di sini, Anda diajak untuk lebih peduli dengan alam dengan tidak membuang-buang air bersih.

Pihak pengelola pulau Macan menyediakan itinerary kegiatan selama 2 hari 1 malam tinggal di sini. But this is your vacation, if you want relax and read the book, you are free to do so. Intinya, selama Anda berlibur, lakukan yang Anda suka. Yanny, wanita berambut pirang asal Inggris ini contohnya. Waktunya dihabiskan untuk berenang, snorkeling, kayaking keliling pulau, atau membaca buku sambil berjemur. “Seperti yang kamu lihat, susah untuk menarik saya keluar dari air,” ucap wanita yang tinggal di New Zealand ini.

Welcoming Kiss

Karangan bunga atau jus buah sih sudah banyak digunakan pengelola resort dan hotel untuk menyembut tamu yang datang. Hanya di pulau Macan, Anda mendapatkan ciuman sebagai ucapan selamat datang. Tunggu dulu, jangan terlalu bersemangat membayangkan pria ganteng berkulit putih atau bule cantik bermata biru yang mencium Anda, tapi ikan mungil yang ada di pinggir pantai. Gerombolan ikan Garra Rufa. Kalau arus sedang tidak deras, Anda tinggal duduk di atas tembok pembatas dan mencelupkan kaki dan biarkan mereka membersihkan kulit mati. Setelah puas bermain dengan ikan Garra Rufa, gunakan rubber shoes yang disediakan dan berenang atau snorkeling di sekitar pulau. Temukan Nemo yang sengaja ditebar di sekitar pulau. Atau Anda akan bertemu dengan ikan cantik berwarna pink yang justru mendekat dengan malu-malu saat Anda berenang mendekatinya.

Karang dan biota laut di sekitar pulau cukup cantik dan menarik. Ikan bergaris hitam putih dengan mudah bisa Anda temukan. Tapi, saat berenang, Anda harus berhati-hati terhadap Stone Fish atau Ikan Batu dan Bulu Babi dan Stingray Fish atau ikan pari yang banyak berkeliaran di sekitar pulau.“Pada dasarnya ikan batu tidak menyerang. Tapi manusia yang menginjak mereka. Dalam lima menit tubuh langsung bereaksi. Bagian yang terkena langsung membengkak. Bagian yang terkena harus segera dibersihkan dan diikat agar racun tidak menyebar. Berbeda dengan sengatan ikan pari. Taji ikan pari dengan mudah menembus kulit tapi mengeluarkannya yang sulit. Karena bergerigi. Biasanya lukanya akan mengeluarkan banyak darah. Kadang daging ikut terangkat,” ungkap Aeng, snorkeling guide di pulau Macan. Tapi, jangan sampai keceriaan dan kenikmatan bersenang-senang di pulau ini terganggu karena Anda ketakutan. Berhati-hati bukan berarti parno kan? Yang pasti, selalu kenakan rubber shoes setiap kali Anda berniat berenang di pantai. “Jangan takut dengan bulu babi. Saya sering mengambil bulu babi untuk dijadikan sashimi. Rasanya seperti telur ikan. Biasanya turis asal Jepang dan Korea mencari bulu babi. Berkhasiat untuk meningkatkan stamina dan keperkasaan buat pria,”ungkap pria yang juga bisa berbahasa Jepang ini.

Sekitar 500 meter dari pulau Macam, terdapat pulau kecil yang tak berpenghuni. Pantainya nyaman buat Anda yang ingin berjemur atau bermain air bersama teman-teman tanpa ingin diganggu oleh kehadiran orang lain. Pulau ini bisa dijangkau dengan mengayuh kayak atau boat karet yang sudah disediakan. Jangan lupa bawa semua perlengkapan berjemur. Pastikan ipod dan speaker tidak tertinggal. Bawa minuman dan bir dingin. Siapkan kantong khusus untuk membawa sampah. Jangan tinggalkan jejak sampah agar keindahan pulau mungil ini tidak ternoda.

Chef Terhebat di pulau Macan

Dapur Pulau Macan digawangi Ibu Painah. Kehebatan ibu Painah mengolah makanan sudah sangat tersohor. Salah seorang teman Urban Style yang sudah dua kali datang ke pulau ini merekomendasikan makanan olahan wanita setengah baya itu. Sayang, saat Urban Style menjejakkan kaki di pulau ini ibu Painah sedang tidak ada karena sedang mempersiapkan diri menunaikan ibadah haji. Penggantinya ibu Mis. Wanita bertubuh mungil ini sudah tiga tahun membantu menyiapkan makanan buat tamu. Ada sedikit kekecewaan tidak bisa bertemu dengan juru masak yang cukup kondang itu. Tapi setelah bicara dengan bu Mis, ada sedikit harapan. Caranya menggambarkan makanan begitu menggoda. Walaupun ia menggambarkannya dengan sederhana. But she talks like an expert. Makanan yang disediakan lebih banyak selera ekspat dengan campuran makanan lokal. Tiga kali makan, bu Mis menyediakan salad yang jauh lebih enak ketimbang kafe eksklusif di Jakarta. “The food is really good,” ungkap Rob, ekspat asal Inggris yang makan dengan lahap. Sambil menikmati matahari terbenam, bu Mis menyediakan pisang goreng yang lagi-lagi rasanya kok lebih enak. Ditambah potongan buah tropis dan segelas Sangria yang membuat otot-otot dalam tubuh mengendur dan rileks. “Di dalamnya ada red wine dan white wine serta beberapa campuran alkohol lainnya. Ditambah buah-buahan. Rasanya enak kan?” tanya Mimi, staff yang menemani tamu selama berlibur di pulau Macan. Malam Minggu, bu Mis menyediakan nasi kuning, salad dengan saus vinegar dan blue cheese, sate ayam, ikan bakar, tumis kangkung, abon dan abon. Apa pun warna kulit Anda, 5 orang Eropa, satu orang Jepang dan 7 orang Indonesia yang malam itu duduk berkumpul di dining table by the beach begitu menikmati makan malam dengan menu Eurosia (Europe-Asia). Akhirnya, hanya ada satu kata, bu Mis juara banget deh. There’s nothing better than a good food in the beautiful island with best friends around you.

Must Bring

- Sun Block SPF 50, Tanning Spray

- Aloe Vera Sooting Lotion

- Lip Gloss

- Tas water proof

- Goggle

- Topi

- Sun glasses

- Extra Bikini or Swimwear

- Flip flop

- Ipod and Speaker (with your favorite play lists in it)

How to get There

Call United Adventure di 021 7658010 atau 08180880 0008

Akomodasi : Rp. 800.000-Rp. 1.100.00/ orang (harga sudah termasuk makan dan minum selama di pulau, penggunaan fasilitas seperti perlengkapan snorkeling, kayak, kapal untuk snorkeling, dll)

Transportasi : Rp. 700.000 (dengan menggukan speed boat lengkap dengan AC) berangkat dari Marina, Ancol, Dermaga 6 jam 08.00

Monday, September 6, 2010

Jelajah Kuliner Bandung


Finally.....

Buku Jelajah Kuliner Bandung ini selesai juga. Malam panjang dan hari-hari melelahkan di Bandung dan kantor seperti terbayar dengan terbitnya buku ini. Kadar kolesterol yang meninggi dan berat badan yang bertambah seolah terlupakan saat buku selesai dicetak. Seperti perempuan yang baru saja melahirkan anak pertamanya, saya memandangi buku ini dengan perasaan campur aduk. Bahagia, bangga, senang, optimis dan perasaan-perasaan lain yang menyesakkan dada. Satu yang bisa saya bilang. Thank God.

Buku ini mungkin hanya setebal 212 halaman, tapi saya dan teman-teman menghabiskan waktu lebih dari duia bulan untuk menyelesaikannya. Mulai dari persiapan sampai editan terakhir. Buku ini masih belum sempurna, tapi saya merasa apa yang dihasilkan sudah sangat maksimal. Paling tidak, orang yang akan berjalan-jalan ke Bandung dan menikmati wisata kuliner di kota kelahiran saya ini tidak perlu lagi bingung mencari di mana lokasi yang akan dituju. Mereka pun tidak perlu bertanya-tanya lagi mau makan di mana dan apa yang enak. Karena semua kategori sudah ada di situ.

Sebagai orang Bandung, semua tempat yang ada di sini merupakan tempat-tempat yang sudah saya kenal sejak saya masih kecil. Beberapa tempat merupakan resto favorit keluarga. Lokasi kami makan setiap kali pulang gereja. Tempat yang menyimpan memori yang indah. Ada juga tempat kencan dan tempat bikin kehebohan bersama teman-teman SMA dan kuliah. Eniwei, semua tempat yang ada di buku ini merupakan tempat yang direkomendasikan, kalau nggak, ngapain dimasukkan bukan? Meskipuin begitu, saya punya tempat favorit sendiri. Here are some of my favorite place

1. Kedai Kopi Purnama
Jl. Alketeri
Tempat paling enak buat ngopi. Nuansa jadulnya kerasa banget. Beda dengan kedai kopi yang sophisticated. Di sini menu mengingatkan pada masa lampau. Menu makannya juga jadul dan super enak. The coffee is perfect. Just come and feel the old taste of Bandung

2. Mih Kocok Abun
Tempatnya di depan kedai kopi Purnama. For me, I guess this is the BEST Mih Kocok in Bandung. Kuahnya nggak berlemak. Taugenya besar dan mantap. Potongan kikilnya empuk dan gurih. Just freaking delicious

3. RM. Linggarjati
Jl. Balong Gede No.1
Saya nyebutnya mie bakso balong gede karena lokasinya di jalan Balong Gede. Mie Yamien komplitnya nggak pernah gagal membuat saya terpesona. Es alpukatnya sampai sekarang masih yang terbaik. The best best best best ever.

4. Kedai Teko
Jl. Neglasari No. 4, Ciumbuleuit
Teh Chai-nya sampai sekarang mampu membuat hari yang gloomy jadi terasa lebih ceria. Lokasinya asyik buat nongkrong bareng your bestiest. Kesannya hangat dan nyaman. U won't feel intimidated in here. Love it

5. Kangkung Hot Place A Hong
Jl. Kebon Kawung
Almarhum papa sering banget ngajak kami makan di sini sepulang gereja. Satu menu bisa untuk di makan bareng-bareng. Biasanya kami pesan Nasi Goreng Babi dan Kangkung Cah Sapi. Untuk empat orang masih bisa dibawa pulang. Tempatnya sih kusam dan nggak mentereng. Tapi soal rasa, resto Chinese Food franchise dari Singapore sih masih kalah. Makanan di sini nggak oily seperti umumnya makanan Chinese. That's why I love it

6. Iga Bakar Si Jangkung
Jl. Cipaganti
Kehabisan kata-kata deh kalau ngomongin tempat makan yang satu ini. Enak banget deh. Harumnya aja udah bikin teler. Love love love it

7. Nasi Kalong
Jl. Riau
NHasi Hitam, oseng buncis dan ayam madu plus sambal. Cukup deh membuat gw tersenyum bahagia.

8. Bebek Goreng Syailendra
Samping RS. Boromeus
Kedai bebek goreng kaki lima ini definately the best lah soal bebek goreng. Harga bersahabat, rasa mantap

9. Bubur Akiong
GOR Padjajaran
Saya sering bilang kalau bubur akiong bukan bubur ayam tapi ayam dikasih bubur. Untuk harga yang dipatok, suwiran ayamnya besar-besar dan banyak. Mantap deh. enak buat sarapan di hari weekend, sambil nyoba makanan lain di kawasan GOR ini.

10. Roti Duti
Jl. Gardujati
Sandwich a la Bandung. Daging asap, bacon dan keju. Perpaduan yang pas untuk memanjakan perut.

11. RM. Bintangf
Jl. Kelenteng
Pemilik rumah makan ini tampangnya jutek, tapi nasi c ampurnya enak. Bolehlah bersaing dengan nasi campur Kenanga yang di Wijaya Center.

12. Nasi Timbel Dago
Jl. Ir. H. Juanda, samping FO Uptown
Nasi Timbelnya wangi dan ada rasanya. Ayam gorengnya gurih dan mampu membuat siapa pun pengen nambah. Seriously, makan di sini enak banget. Harganya juga ok. Nggak mahal banget

13. Bakmi Jowo DU 64
Jl. Dipati Ukur no. 64
Nuansanya Jawa Banget. pelayannya aja pake batik dan blangkon. Mereka juga diimport langsung dari Gunung Kidul, lokasi dari asalnya menu ini. Bahan bangunan, tempat masak dan kokinya juga asli Gunung Kidul. Jadi nggak heran kalau rasanya Jawa banget. Ditambah lagu-lagu Jawa yang bikin makin Njawani. Mie nyemeknya mantap. Apalagi disandingi dengan Teh Nasgitel alias Teh panas manis kentel.

14. Aji Anom
Jl. Panatayuda no.11
I disocover this place by incident. Hahaha. Kelaperan tengah malam dan nyangsang di jalan Panatayuda. Ngeliat warung yang masih buka, saya masuk dan pesan ayam betutu tanpa mengharapkan menemukan harta karun. Ternyata warung sempit di area yang remang-remang nyaris gelap ini ada menu yang bikin mata melotot keenakan. Sumpah, u have to try ayam betutu dan iga kambingnya. sumpah enak. nggak boong.

15. Sate Ayam Maulana Yusuf
Jl. Maulana Yusuf
Potongan dagingnya besar dan tidak berlemak. Harganya sedikit mahal sih tapi worthed kok. Bumbunya dipisah. Paling enak dicocol pake kerupuk. Ohhhhhh...nyam nyam nyam.
Jadi laper nih nulis beginian

16. Pempek Rama
Jl. Rama
Ini pempek terenak di Bandung raya. Awalnya cuma garasi yang biasa aja. Sekarang berkembang pesat jadi toko pempek yang cukup keren. Pempeknya gurih. rasa ikannya kerasa. Kuahnya Palembang banget. Dalam artian sama strongnya dengan yang ada di palembang sana. Ada tekwan home made yang bikin ngiler selalu and above all, ada es kacang merah. Sumpah loe ya,. es kacangnya enak banget. empuk dan manisnya pas. The best lah. Must try.

Eniwei, itu sebagian dari tempat makan favorit saya yang masuk dalam edisi jelajah kuliner di sini. Sebenernya masih ada beberapa tempat lainnya cuma perut saya udah keroncongan gara2 nulis ini.

Friday, August 27, 2010

Immaculate Sunset


Bali.....

Siapa sih yang nggak terpesona dengan pulau ini? Buat saya secara pribadi, Bali seperti punya kekuatan magis yang mampu menarik saya untuk terus kembali. Seorang teman pernah tanya, "why do u love Bali so much? Jalan Kuta tidak akan berubah. Seminyak dan Kerobokan tetap seperti itu. Palingan lebih padat dengan toko dan restoran," tukasnya. Kata-katanya sih nggak sepenuhnya salah. Kuta nggak mungkin pindah tempat ke Sanur, begitu juga sebaliknya. Tapi saya merindukan suasana Bali yang nyaman. Saya merasa bisa menjadi diri sendiri tanpa peduli dengan sekelilingnya. Bisa pake celana pendek sambil pamer paha drumstick tanpa harus takut ada mata2 sinis dan mulut nyinyir yang bakal komentar. No one care. You can dress up or dress down, no body cares.

Selain kebebasan berekspresi, saya selalu kangen menikmati matahari terbenam. Dulu, waktu Ucun, kakak perempuan saya masih tinggal di Sanur, kami suka jalan berdua menunggu sunrise. Secara tempat tinggalnya hanya 5 menit jalan kaki ke pantai. Sorenya, dengan mengendarai Mio, kami sering mangkal di Kuta dan menunggu matahari tenggelam. Sunset di Kuta, terlepas dari betapa ramai dan hebohnya tempat ini, memang cantik. Semburat warna oranye membakar langit sesaat sebelum sang mentari masuk ke dalam peraduannya. Selain Kuta, ada beberapa pantai yang memiliki pemandangan sunset yang menawan. Salah satunya pantai Dreamland, Padang Padang dan beberapa pantai di kawasan Uluwatu. Menikmati sunset di pantai pasti identik dengan celana pendek, tanktop, bikini (buat yang berani) dan kaki yang penuh dengan pasir. Muka terbakar matahari dan rambut lepek akibat nyemplung ke dalam air. Jujur, berdekil2an begini paling seru. Mainan air sampai bego.

Buat yang ingin mencoba menikmati sunset yang lebioh sophisticated dengan bff atau mungkin dengan pacar, ada beberapa tempat yang menurut saya asik buat menikmati sunset. Dengan mini dress atau short pants dan sun glasses plus your fab flats.

1. Rock Bar at Ayana Hotel and Resorts
Nggak disangkal lagi ini tempat yang lagi happening di Bali. Bar yang didesain seorang arsitek asal Jepang ini dibangun tepat di atas karang. Berada kurang lebih 14 meter di atas permukaan laut. Saat duduk di open bar ini, kita bisa merasakan dan mendengar gulungan ombak menghempas batu karang. Sebuah pengalaman yang seru banget. Cocktail yang disajiin juga unik2. Saya paling suka mojito dan cocktail buah stroberi yang saya lupa namanya. Warnanya merah menyala dan rasanya asam. Enak deh pokoknya. Makanan yang disediakan lebih banyak finger foods. Jadi bukan tempat yang cocok buat cari makan. Lebih cocok buat nongkrong. Spring rolls dan Chicken Popcorn, menu favorit saya. Yummmyyy. Dapet tempat di sini terbilang perjuangan, apalagi di malam weekend. Selamat berjuang deh. Saya selalu sampai tepat jam 4.30 sore supaya bisa mendapatkan tempat yang paling pas. Nggak jauh dari bar tapi berada diujung jadi bebas menikmati pemandangan yang indah. Pesen tempat sih bisa tapi kalau terlambat 10 menit saja, bangku sudah dialihkan ke pengunjung lain. Lokasi bar ini berada di bawah resort. Harus turun kurang lebih 200 tangga. Jadi JANGAN. sekali lagi JANGAN!!@!!! pakai high heels. Kecuali kaki kamu terbuat dari kayu.

2. Jumana at Banyan Tree Resort
Restoran yang berada di kawasan resort Banyan Tree ini memukau. Perpaduan interior yang berwarna putih dengan biru laut yang bisa terlihat lobby restoran. Menghadap kearah samudera hindia. Makan malam romantis sambil memandangi sunset yang tenggelam is so romantic. Saya hanya bisa terbelalak kagum memandangi lautan yang tak berhejung berwarna biru. It's so beautiful.

3. Di Mare at Karma Kandara Resort
Ini salah satu tempat favorit saya. Sudah beberapa kali saya datang ke tempat ini dan rasa kagum tidak pernah absen. Saya serasa melangkah masuk ke Olympus, istana Zeus. Pilar berukuran besar berwarna putih menopang restoran. Tidak ada jendela yang bakal menghalangi mata memandang birunya air di Samudera Hindia ini. Di atas restoran, ada kursi malas beralas bantal serta selimut buat yang ingin menunggu sunset. Selimut ini untuk sedikit membatasi tubuh dari serangan angin yang cukup kencang. Sunglasses is a MUST item. Makanan yang di sini bergaya Mediteranian. Tapi masih ada sandwhich atau burger yang porsinya cukup mantap. Kalau mencari makan, turun dengan inclinator ke restoran di bawahnya. Ada makanan Yunani dan makanan lokal seperti pizza dan sup buntut. Bisa main langsung di pantai. Ada juga kursi malas buat sekedar leyeh-leyeh. Setiap Senin, ada layar yang memutar film-film keren. Ngerti dong, kenapa tempat ini jadi tempat favorit saya meskipun untuk masuk ke sini harus dikenakan charge sebesar 200 ribu. Eitsss, jangan kuatir, biaya itu akan dikurangi dengan pemesanan makanan. Maksudnya sih supaya orang2 yang cuma pengen potrat potret tanpa berniat makan di sini tidak bisa masuk. Well, ada rupa ada harga kali ya

4. Sangkar at BLVGARI Hotel
Kira-kira dua tahun lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di bulgari hotel, Bali. Wakltu itu, hotel ini belum lama berdiri. Masih baru dan masih jadi bahan pembicaraan semua orang. Hotel termahal dengan pemandangan spektakuler. Seperti orang kampung, saya masuk ke sini dan saat kaki saya menginjak lobby hotel, mata saya terbelalak kagum melihat pemandangan yang terbentang di depan mata. Pandangan mata saya lurus memandang laut dan saat saya menunduk, saya bisa melihat atap villa hotel. Suasananya terasa gelap karena lobby berwarna gelap. Kesannya mewah tapi misterius. Dengan menggunakan buggy, saya dibawa ke Sangkar. Salah satu restoran yang ada di dalam hotel. Melewati pool yang tak bertepi. Seolah sedang berenang di laut. Seperti namanya, saya melihat sangkar di atas resto. LKampu berwarna jingga berpendar indah dari dalam sangkar yang menggantung. Beautiful. Saya lebih suka memilih duduk di bagian pinggir yang memudahkan saya menikmati pemandangan pantai. Selain pemandangan sunsetnya yang indah, di sore hari biasanya banyak monyet yang berkeliaran. Aduh seneng deh bertemu dengan saudara tua yang lucu-lucu. Jarak antara restoran dengan pantai kurang lebih 500 meter dan bisa ditempuh dengan menggunakan inclinator.

5. Ocean 27 at Bali Galeria
Temen saya yang orang Perancis begitu terkesan ketika saya tenteng dia ke sini. Kasur-kasur dan bantal tersedia buat yang doyan leyeh-leyeh sambil menunggu sunset. Buat yang suka rendeman bisa berenang sambil membawa sebotol bir. Mau duduk-duduk sambil ngebir atau minum cocktail sambil cekikikan juga bisa. Nyaman banget dan harganya cukup terjangkau. Untuk kenyamanan yang ditawarkan harganya nggak terlalu bikin sesek napas.

Wednesday, August 25, 2010

Backpacker Centil


Kalau ngedenger kata backpacker, otomatis orang berpikir tentang wisatawan kere dengan tas ransel setinggi badan dengan duit terbatas, tidur di hostel murahan dan makan ala kadarnya. Nggak salah juga sih. Beberapa tahun yang lalu, saya seperti itu. Berani jalan-jalan dengan duit ngepas. Yang penting bisa melihat tempat baru. Tidur di mana pun terserah deh. Makan apapun yang penting kenyang. Nggak mau rempong beli oleh-oleh. Pokoknya jalan-jalan sehemat mungkin.

Tapi, itu dulu

Sekarang, dengan usia yang semakin bertambah, rasanya sudah tidak sanggup lagi untuk traveling dengan gaya seperti itu. Ya, saya masih berjiwa backpacker dan masih bergaya backpacker. Artinya, saya masih menggendong tas ransel besar setiap kali bepergian, kecuali untuk urusan dinas. Karena membawa kopor sambil turun naik subway sangat tidak nyaman. Tapi gaya traveling saya sudah berubah. Saya masih mupeng cari tiket pesawat murah. Tapi saya nggak mau lagi tidur di hostel seharga 70 ribuan semalam dengan tempat tidur bertingkat. Alasannya sih sederhana saja. Dengan badan saya yang "mungil" ini, rasanya parno aja kalau harus tidur di kasur bertingkat. Kalau lagi tidur nyenyak tioba2 gw ngimpi terjun payung trus nglundung ke bawah gimana? Alasan kedua, yakin kayu palang kasurnya kuat nahan beban yang berat? Siapa tau kayunya udah lapuk. Giliran dipake gw, kasur ambruk ke bawah!! Sakitnya sih mungkin nggak seberapa. Tapi malunya kan luar biasa. Bisa ngalahin sakit akibat benjol2.
Karena alasan-alasan itulah sekarang ini, setiap kali traveling, meski budget dibatasi, paling nggak saya selalu mencari kamar yang privat. Hanya untuk dua orang dan harus ada AC. Ini wajib. Saya nggak mau tengah malem masih kipas2 kayak tukang sate. Bangun pagi bukannya seger tapi malah bete. AC ini khusus di kawasan Asia Tenggara dan bukan di Eropa pada saat musim dingin ya. Gw nggak mau jadi patung es gara2 kedinginan. Selain AC, hostel, mini hotel itu harus dilengkapi dengan wifi, yang gratis tentu saja. Biar komunikasi dan eksistensi diri masih bisa tetap terjaga. Memang sih biasanya di hostel atau hotel mini itu selalu ada PC yang bisa digunakan, tapi biasanya selalu saja fully occupied alias banyak penggemarnya. Lagian males kan diliat orang kalau situs yang kita buka nggak penting banget (weitsss, bukan situs porno lho yang dimaksud. Tapi situs2 sosial seperti fb atau twitter atau blog ini). Preference yang berikutnya, tempat menginap sebaiknya dekat dengan stasiun MRT atau Subway atau halte bus. Supaya memudahkan transportasi. Maklum sudah sepuh, jadi kalau jalan kelamaan biasanya gempor dan malemnya kamar bau PPO, minyak kayu putih dan perlengkapan nenek-nenek sejenis.

Perubahan nggak cuma dari urusan tempat nginep. Urusan makan juga jadi lebih pemilih. Dulu makan mie instant atau makanan street food seadanya nggak masalah. Sekarang? Wah udah nggak bisa lagi. Tiap kali traveling selalu ada budget khusus buat nyobain restoran atau tempat ngopi yang cozy. Abis jalan2, nongkrong. Ngobrol-ngobrol nggak jelas sambil duduk2 manis di atas sofa yang comfy. Intinya, kenyamanan harus ditingkatkan. Mungkin ada yang nanya, kenapa harus makan di resto? Sok banget. Nggak juga sih. Beberapa tahun belakangan ini, saya merasa bahwa cara paling ampuh untuk mengetahui dan meleburkan diri dalam budaya suatu negara bisa dilakukan melalui makanan. Dari makanan tradisional itulah saya jadi tahu bagaimana karakteristik sebuah bangsa. Cara mereka makan dan bagaimana mereka berinteraksi satu dengan lain. Belakangan ini saya merasa, life is short. so, makes the best of it.
And sekarang saya berfotomorfosa dari backpacker dekil jadi backpacker centil.

Monday, August 9, 2010

Legend of Phu

"Hi, my name is Phu. Not Pho! I'm not your breakfast!"

Perkenalan ini langsung disambut gelak tawa peserta tour Mekong Delta yang berada di dalam bus. Dengan topi berlambang Nike warna putih, kemeja putih dan celana abu-abu dan sepatu warna hitam dan kacamata rayban palsu, Phu lebih terlihat seperti salesman ketimbang guide. Urusan gaya, cowok yang mengaku berasal dari kampung di pelosok Vietnam ini patut diacungi jempol. Meski bahasa Inggrisnya belepotan dan lebih banyak menggunakan kalimat perintah yang tidak berstruktur, Phu pede aja. Jokenya juga lumayan banyak. Meski garing, lumayan menghiburlah. Apalagi ipod mati dan perjalanan dari Ho Chi Minh City ke Mekong Delta ditempuh selama kurang lebih 3 jam.

Menurut curhatannya di dalam bus, Phu berasal dari kampung. Ayahnya seorang petani. Tahun 1997, mata Phu baru terbuka dan melihat dunia. Dia baru tahu bahwa ada orang dengan ras caucasian yang berkulit putih dan berambut pirang atau cokelat dengan mata biru, hijau atau ungu. Awalnya dia mengira semua manusia itu berwajah Asia dan berhahasa Vietnam. Selepas SMA, Phu pergi ke Ho Chi Minh City dan sekolah menjadi guide dan belajar bahasa Inggris. (No wonder kalau gayanya alay begini, hehehe).

Setelah bus mulai meninggalkan Ho Chi Minh City, mulailah Phu bercerita tentang Mekong Delta dan kecantikan gadis-gadis Mekong yang sangat menawan. "Tapi ayah saya melarang saya jatuh cinta atau berhubungan dengan gadis-gadis Mekong," ucapnya. Nggak jelas juga kenapa ayahnya melarang. Phu tidak menjelaskan secara spesifik kenapa gadis Mekong terlarang. (Menurut perkiraan gw sih karena orang tuanya takjut Phu nggak bisa balik lagi ke daratan kalau menikah dengan gadis Mekong. Itu tebakan sotoy gue lho). Sampai di Mekong Delta dan mengunjungi pusat wisata Mekong, makin ketauanlah sifat asli si Phu. Gw merasa dia lebih cocok jadi salesman ketimbang guide. Karena selama di Mekong, dia justru sibuk jualan. Bahkan membantu pelayan di rumah makan mendagangkan Elephant Ear Fish yang ternyata adalah ikan gurame goreng. Sambil jualan, nggak lupa dia colek-colek gadis-gadis Mekong yang diakunya sebagai kekasihnya itu. "This is my girl friend," ucapnya sambil memeluk seorang gadis di pusat penjualan permen kelapa. Sampai di pusat penjualan madu, lagi-lagi Phu memeluk seorang gadis yang juga diakui sebagai pacarnya. Sampai di tempat terakhir, Phu masih memeluk gadis-gadis yang ditemui sepanjang perjalanan di Mekong Delta. Sangat culamitan bin cunihin menurut gw.

Phgu baru kena batunya waktu kapal berlabuh di dekat pasar. Pemberentian terakhir sebelum kami kembali ke kota. Jalan turun kapal sedikitr tinggi dan saat gw mau turun, Phu menawarkan diri untuk membantu. Gwe sebenernya nggak yakin waktu Phu ngulurin tangan karena posisi dia kayaknya nggak kokoh. Tapi karena dia maksa, terpaksalah gw terima. Begitu gw melompat turun, pegangan Phu goyang, and dia kepeleset ke bibir beton. Refleks dong tangannya meluk ke perut gw dan refleks pula gw menghindar sampai akhirnya Phu teriak ,"help me." Gw baru sadar kalau kaki dia udah nyungsep ke tumpukan sampah dan nyaris kejengkang. Gw tarik tangannya. Bagian bawah celananya kontor dengan lumpur. Topi kebanggaanya jatuh dan kacamata raybannya masuk ke air. Untungnya semua perlengkapan dia bisa diselamatkan dan kami pun masuk ke dalam bus dengan wajah lega.

Meski sempat blangsak, Phu tetap eksis. Selama perjalanan pulang, dia masih semangat cerita tentang perbedaan toilet dan restroom menurut orang Vietnam dan alasan mengapa di setiap kapal yang berlayar di sungai Mekong selalu ada tempelan berbentuk mata berjumlah dua. Dan yang paling dahsyat adalah ucapan selamat tinggal yang sangat personal dengan menjabat tangan semua orang saat masih berada di bus. Tapi gw sadar bahwa inilah cara Phu menagih tips dari para peserta tour. Trik yang menurut gw sangat pintar. Smooth and smart. Sama seperti caranya memperkenalkan diri. Yang langsung membuat semua mata dan perhatian tertuju padanya. Juga kehandalannya sebagai sales.

Monday, June 21, 2010

Yogya, Surga Makanan Enak

Katon Bagaskara pasti punya pengalaman tak terlupakan yang mendorongnya menciptakan lagu bertajuk Yogyakarta. Setiap kali menginjak kota ini, sulit untuk tidak mendendangkan lagu yang dibawakan KLA Project ini. Lirik lagu ini masih sangat cocok menggambarkan Yogya. Sudut-sudut kota Yogya masih bersahaja, musisi jalanan beraksi memeriahkan malam, pedagang lesehan mewarnai sepanjang jalan Maliboro. Bedanya, kini Yogya tidak hanya menawarkan sajian tradisional berupak gudeg dan segala lauk pauknya. Berbagai tipe kafe, resto, kedai, warung makanan tersebar di seluruh kota. Kembali ke Yogya setelah beberapa lama absen, kekaguman atas perkembangan kuliner ini membumbung tinggi. Setelah beberapa hari di Yogya, pusat kuliner mulai bisa dipetakan. Salah satunya, Kaliurang yang berkembang pesat. Berbagai jenis resto, mulai tradisional sampai internasional bertebaran di kawasan ini. Paling tidak dibutuhkan beberapa hari untuk bisa menjelajah dan mencoba resto, rumah makan dan kafe terbaik di kawasan ini.

Masih di sekitar Kaliurang, tepatnya di daerah Mudal, Sariharjo terdapat banyak tempat makan yang sayang untuk dilewatkan. Sebut saja Sapi Bali. Rumah makan yang berdiri 2 tahun lalu ini menjadi tujuan utama warga Yogya dan pendatang yang ingin mencicipi Iga Bakar Bumbu Bali yang lezat. Tempat makan yang tidak boleh dilewatkan jika berkunjung ke Yogya. Hanya beberapa meter dari Sapi Bali terdapat beberapa resto dan kafe yang menyajikan menu dan lokasi yang eksklusif. “Rencananya wilayah ini akan dibuat menjadi pusat kuliner Yogya. Gayanya akan seperti Bali,” ungkap I Ketut Sudarsana, pemilik Jimbaran Kafe yang berada di kawasan ini. Puluhan resto dan kafe sudah berdiri di lokasi ini, dan di tahun mendatang, kawasan Mudal, Sariharjo dipastikan bakal seramai dan seheboh kawasan Seminyak, Bali.

Berkembangnya tempat kuliner eksklusif ternyata tidak mematikan kuliner khas Yogya. Gudeg Yu Djum tetap saja dipenuhi pengunjung. Membeli satu piring nasi gudeg dan ayam membutuhkan waktu kurang lebih 20 menit. Itu pun karena saya rewel dan terus menerus menghentikan langkah pelayan. Memastikan mereka mengingat pesanan saya, saking penuh dan banyaknya pesanan. Angkringan Lik Man yang berada di sebelah Utara Stasiun Tugu juga tidak pernah sepi. Tiap malam selalu saja ramai orang yang menghabiskan waktu berbincang dengan teman dan sahabat di pinggiran jalan.

Selama berada di Yogya, saya menyempatkan diri menjadi ratu sehari dengan mencicipi hidangan khusus raja-raja Yogya yang dihidangkan di Bale Raos dan Gadri. Mengalami sendiri sajian khas keraton merupakan pengalaman tersendiri. Bayangkan, jika saat ini pemerintahan feodal masih berkuasa, tidak mungkin kami bisa duduk di meja dan memakan menu yang sama dengan raja, jika bukan anggota keluarga kerajaan. Sambil mencoba hidangan favorit Sultan Hamengkubuwono ke IX dan X, saya pun berandai-andai, jika saya putri raja, gelar apa yang akan disandang. Lamunan terputus dengan seloroh seorang teman. “Gelar yang cocok buat kamu, Raden Ayu Woro Kenthir (Raden Ayu Gila, red),” gelak seorang teman. Mungkin gelar itu yang cocok dengan kepribadian, tapi tetap saja, sensasi menjadi putri raja saat menikmati kuliner para raja tidak akan hancur karena gelar “nakal”.

Menyantap Hidangan Kesukaan Sri Sultan

Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat punya pengaruh besar dalam perjalanan sejarah Indonesia. Di masa penjajahan dan awal kemerdekaan Sultan Hamengkubowono ke XI yang merangkap posisi sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia menjual harta kerajaan untuk membiayai negara yang masih seumur jagung ini. Ketika Sultan berkarisma ini mangkat dan digantikan sang putera yang bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono ke X, pengaruh Kasultanan Yogyakarta tidak berkurang. Yogyakarta masih berada dalam kendali Sultan Hamengkubuwono sebagai Gubernur dan Kepala Daerah.

Posisi Sultan dalam pemerintahan dan kehidupan masyarakat Yogya tidak hanya sebagai simbol, tapi juga bukti nyata kejayaan kerajaan Mataram di tanah Jawa. Meski kini protokoler keluarga kerajaan sudah tidak seketat seperti beberapa dekade lalu, tetap saja ketika menyebut keluarga kerajaan, pikiran akan dipenuhi rasa ingin tahu. Seperti apa kehidupan keluarga kerajaan di balik tembok yang berdiri megah dan anggun? Buat saya, keingintahuan lebih terpaku pada gaya kuliner keluarga kerajaan. Makanan seperti apa yang disajikan untuk para raja? Di Yogya, kami menemukan beberapa resto yang menyediakan menu kesukaan raja, mulai dari Hamengkubuwono XIII sampai yang ke-X. Sri Sultan Hamengkubuwono ke IX biasa mulai bersantap dengan makanan pembuka berupa Soup Tomat. Segar rasa tomat membangkitkan gairah dan nafsu makan siapa pun yang mencicipi. Hidangan istimewa ini saya coba di Bale Raos, resto milik GKR Pembayun, putri sulung Sri Sultan Hamengkubuwono ke-X. Menu raja yang berkuasa dari tahun 1940-1988 ini memesona kami. Bebek Suwar Suwir dengan Saus Kedondong, wah yang satu ini rasanya sungguh luar biasa. SuddenlyI feel like a royalty hanya dengan mencoba sajian ini. Bebek suwir yang empuk berpadu sempurna dengan saus kedondong yang asam. Menyatu dengan sempurna. Menu lain yang disukai HB IX, Nasi Blawong. Nasi merah dengan aneka lauk ayam, sambal, telur dan peyek teri. Paling enak dimakan siang hari karena porsinya yang lumayan besar. Nasi panas bercampur aneka lauk ini sangat enak. Hidangan istimewa ini kami cicipi di Gadri Resto yang juga kediaman Pangeran Joyohadikusumo. Selera HB VIII, Roti Jok dengan semur daging. Bentuknya menarik dan setelah dicoba, tidak mengecewakan. Roti jok yang asin dengan cocolan kuah semur yang manis terasa unik dan juga menggelitik lidah. Gadri dan Bale Raos tidak hanya menghadirkan menu khas keraton. Lokasi resto yang masih berada di lingkungan keraton memberi kesan yang kuat. Masuk ke dalam resto Gadri, pandangan kami tertumbuk pada sebuah sangkar ayam yang biasanya digunakan pada saat kekahan. Bangunan bergaya Jawa kuno dengan pajangan foto keluarga GBPH Joyohadikusumo, adik kandung HB X membuat restoran ini jauh dari kesan arogan. Nyaman dan hangat. Begitu yang dirasakan. Sesekali, BRAy Hj. Nuraida, istri GBPH Joyohadikusomo menghentikan langkah kakinya hanya untuk menerima permintaan pengunjung berfoto bersama. “Kerabat saya ini datang dari Kalimantan dan ingin berfoto di ruangan depan bersama Gusti,” ucap seorang ibu. Berada di dua resto ini, kami bisa merasakan suasana khas keraton. Rasanya seperti menjadi putri keraton yang tengah berada di jamuan makan Sultan. Pengalaman kuliner yang luar biasa.

Kaliurang: Pusat Kuliner Terdahsyat di Yogya

Terakhir kali saya berkunjung ke Yogya kurang lebih setahun yang lalu. Itu juga karena ada rapat dengan bos besar dan sedikit besar. Jadi tidak bisa jalan-jalan. Hanya bisa sarapan gudeg Yu Jum. Siapa nyana setahun absen, perkembangan kuliner di Yogya bikin bengong. Banyak sekali tempat baru bermunculan di wilayah ini. Yogya tampil dengan wajah yang lebih modern dan dinamis. Tidak hanya mengandalkan makanan tradisional. Untungnya ada Bedul, panggilan saya buat Ongki Rubianto, sahabat yang lebih dari satu dasawarsa saya kenall. Sebagai pengusaha agen perjalanan di Yogya, Bedul lumayan update dengan tempat makan baru, terutama yang berada di daerah Kaliurang. Seriously, you have to come to Kaliurang and experience the incredible foods in this area. Beberapa tahun lalu, Kaliurang dikenal sebagai daerah mahasiswa. Universitas dan kosan menjamur di kawasan ini. Makanan di kawasan ini lebih banyak untuk mahasiswa. Harga murah dengan porsi besar. Tapi sekarang, Kaliurang bisa dibilang pusat kuliner Yogya. Paling tidak itu yang kami rasakan. Mulai dari resto internasional sampai rumah makan tradisional ada di sini. Luar biasanya lagi, semuanya enak. Yuk, kita berwisata kuliner di wilayah Kaliurang? Saya memilih mengarungi wilayah Kaliurang dari kawasan atas dengan mampir di Jadah Tempe Mbah Carik I di Asto Mulyo, Kaliurang. Sering disebut sebagai burger Jawa, taruh tempe di antara dua buah jadah dan memakannya seperti burger. Ternyata, J'addore this Javanese burger! Nggak akan merasa ndeso kok kalau makan ini. Justru menjadi ndeso kalau belum pernah memakan burger Jawa yang top ini.

Sambil menikmati udara Kaliurang yang sejuk, saya mengarah ke bawah dan berhenti di kilometer 18,7, atau tepatnya di resto Amboja. Terus terang, saya mampir karena tertarik dengan slogan, herb garden dine. Restoran yang dibangun dari potongan bambu ini sangat ramah lingkungan. Bumbu yang digunakan diambil dari lahan di samping resto. Di dalam resto tidak ada pendingin ruangan. Semilir angin bisa masuk dari pondok yang terbuka. Untuk memanggil pelayan, cukup mengetuk kentongan berbentuk cabai merah yang tergantung di beberapa sudut. Minimalis dan hemat energi. Kami memesan Ayam Rempah Pedas dan Jamur Asam Manis. Potongan ayam goreng diberi bawang merah dan limpahan cabai potong. Seperti memakan ayam goreng dan sambal dhabu-dhabu. Enak sekali. Jamur Asam Manis rasanya unik. Kuah asam manis diberi tambahan jahe dan merica hitam. Simply excellent. Selama berada di sini kami disuguhi secangkir teh Rosella sebagai minuman pembuka. Enak dan sehat. Usai mengucapkan selamat tidur pada sang surya yang sudah kembali ke peraduan, saya mengayunkan kaki keluar dari Amboja dan menuju ke persinggahan berikutnya, Sego Penyetan Banyuwangi. Terletak di km 11,5 tempat ini menyediakan tempe penyet yang juara dan ikan lega yang hao chi. Buat yang suka makanan serba panas, ini tempat yang wajib disinggahi. Sambal berwarna merah menyala yang disajikan menambah nafsu makan.

Beberapa kilometer dari rumah makan Sego Penyetan, ada papan iklan berukuran sedang yang menunjukkan arah rumah makan Sapi Bali. “Oh, kalian harus ke resto itu. Iga bakar terenak ada di sana. Salam juga ya buat Adzan. Dia pemilik resto,” tulis Bedul melalui SMS saat saya bertanya mengenai resto di Jalan Mudal Sariharjo ini. Sampai di depan resto, puluhan mobil mewah memenuhi tempat parkir yang tidak terlalu luas. Kami memasuki resto dan memilih duduk di bangku kayu yang berada di tengah ruangan. Di sini saya ketemu Winky Wiryawan. Setelah menyapa dan ngobrol sebentar, kami mulai memesan Iga Bakar Bumbu Bali berukuran lumayan besar. Tanpa kesulitan, pisau membelah daging. Bumbu Bali terasa kuat menggelitik lidah kami untuk terus menyantap iga bakar. Usai menandaskan satu porsi Iga Bakar Bumbu Bali, saya sempet ngobrol dengan Adzan T Budiman, salah satu pemilik resto. Mantan Executive Chef Hyatt Hotel dan partner memulai usaha dengan niatan membuat makanan gaya Bali yang halal. “Seperti American barbeque gaya Indonesia,” ungkap pria yang juga dikenal sebagai konsultan resto ini. Berawal dari 4 buah meja dan kursi, dalam sekejap bisnis yang dibangun Adzan berkembang menjadi the hottest resto in town. Selebriti papan atas menjadi langganannya. Termasuk Dian Sastrowardoyo. Sepanjang Jalan Damai, Mudal Sariharjo ini ada beberapa resto yang bikin nggak bisa berenti makan. Dimulai dari Jimbaran. Kepiting, udang, kerang, ikan sampai bebek crispy bisa menjadi pilihan. Ikan dan berbagai jenis seafood yang top markotop. Masih segar dan dimasak sesuai selera pemesan. Sambil menikmati makanan, pengunjung akan dihibur oleh live music. Di samping Jimbaran, ada Sawa Bar, resto fine dining yang menyajikan makanan Eropa. Pemandangan yang indah menghadap ke lahan hijau, semilir angin membelai lembut. What else do you need? Just simply heaven. Beberapa meter dari Sawa Bar, ada Hani’s Bakery. Membaca papan nama, saya pikir hanya akan mencicipi berbagai jenis pastry. Ternyata, di belakang toko kue, terdapat resto bergaya cozy dan klasik. Simple but lovely. Di resto ini, saya jatuh hati pada Pasta with Spinach, Mushroom and Beef. Saus krim yang kental bercampur dengan bayam dan pasta. Oh, kami seperti tersihir. Kenangan akan kenikmatan yang tidak mungkin kami lupakan. What an incredible experience. Be dazzelled. Beberapa resto lain yang nggak kalah mantap; Sasanti, fine dining khusus makanan Indonesia, Bamboe resto, Pari-Pari dan Ayam Betutu. Ada juga resto Korea, jika mendadak mood untuk mencoba bibimbab atau bulgogi.

Ekslusivitas Resto Khas Yogyakarta

Label sebagai kota pelajar, memberi gambaran yang sedikit keliru tentang Yogya. Terutama berhubungan dengan kuliner. Banyaknya hanya menitikberatkan pada lesehan, angkringan, nasi kucing, bakmi Yogya yang notabene bisa diperoleh dengan harga 10 ribu rupiah ke bawah. Kesannya, tidak ada tempat yang cukup eksklusif dan cozy untuk menjamu kolega, atau sekedar memanjakan diri dengan gaya kuliner yang oke. Dari penyusuran saya, Yogya justru tengah dipenuhi tempat-tempat makan yang eksklusif dan bernilai artistik tinggi. Tidak hanya dari lokasi, tapi juga makanannya. Contohnya, resto Omah Dhuwur yang berlokasi di kawasan Kota Gede. Di lingkungan pengusaha perak ini, kami menemukan resto dengan interior berwarna gelap. Dhuwur (tinggi) terejawantahkan dari puluhan anak tangga yang harus didaki. Hembusan angin yang cukup kencang semakin menguatkan posisi resto yang cukup tinggi ini. Pandangan tertumbuk pada sebuah bas betot yang berada di sudut ruangan, juga lukisan Jawa yang indah.

Sambil menikmati suasana yang cukup romantis, saya memutuskan mencoba Omah Dhuwur Steak. Tenderloin Steak dengan saus tempe. Unik kan? Tempe tumbuk dijadikan sebagai saus, sementara kentang diganti singkong. Ketika tradisi Jawa berkolaborasi dengan kuliner Barat, paduan yang sempurna. Untuk minuman, saya memberanikan diri mencoba Traditional Ice Lombok. Potongan cabai rawit sengaja ditaruh di dalam minuman. Ada sedikit rasa pedas, tapi tidak sampai merusak rasa minuman yang sedikit mengingatkan pada secang. Kurang lebih 50 meter dari resto ini, ada bangunan Jawa dengan gaya kolonial berwarna hijau. Resto Sekar Kedaton ini dijamin memanjakan Anda yang menuntut kenyamanan bagi tubuh, mata dan lidah. Coba lumpia goreng berisi gudeg. Nggak mungkin nggak suka deh. Jiahhh, memaksakan selera judulnya nih.

Di dalam kota, tepatnya di wilayah Sagan, ada beberapa resto dan kafe eksklusif. Salah satunya Gabah Resto. Sesuai namanya, ada beberapa gabah berukuran besar di halaman kafe. Penataan tempat memberi kesan minimalis dan elegan. Menu yang disediakan gabungan kuliner barat dan tradisional Indonesia. Pengunjung kafe ini paling suka Sirloin Steak, Tenderloin Spinach dan Norwegian Salmon. Ternyata, selera saya tidak jauh berbeda dengan pengunjung kafe ini. Saya pun merekomendasikan menu di atas sebagai favorit.

Warung Legendaris di Yogya

Rasanya seperti datang ke acara reuni. Itu yang dirasakan saat masuk ke rumah makan SGPC Bu Wiryo. Sepiring nasi pecel dengan tempe goreng dan telor ceplok. Sederhana, tapi mengesankan dan tidak terlupakan. Bumbu kacang yang legit dan menggigit seperti jangkar yang mengikat siapa pun yang mampir ke tempat ini. Bu Wiryo mulai berjualan sejak tahun 1959 dan masih sangat popular di kalangan mahasiswa, eksekutif sampai pejabat. Isn’t that cool? Mencari tempat makan yang memiliki sejarah sepanjang SGPC Bu Wiryo di Yogya ini tidak terlalu sulit. Beberapa tempat yang saya sambangi sudah mulai berjualan sejak berpuluh tahun lalu, salah satunya Bacem Kepala Kambing H. Sukirman. Seperti apa ya, kepala kambing yang dibacem? Ini pengalaman pertama mencoba sajian kuliner yang dari nama saja sudah mengundang rasa penasaran. “Makannya bagaimana ya?” Jujur saya membayangkan tulang kepala kambing yang keras dan besar. Ternyata sajian yang ada di depan mata k jauh berbeda. Tulang kepala lebih dahulu dibuang. Tinggal kulit dan daging saja. Kepala diungkep selama 3 jam dengan bumbu bacem. Setiap hari rumah makan ini menghabiskan kurang lebih 26 kepala kambing. Kekenyalan daging dan kulit kepala kambing dengan manisnya bumbu bacem membuat makanan ini cocok buat menemani nasi putih panas. Apalagi ditambah sambal cocolan yang pedes-pesed manis bikin napsu makan makin menggila. Meski warung ini tidak berada di pinggir jalan besar, jumlah selebriti yang sudah pernah mampir membuat saya menjuluki tempat ini sarang selebriti.

Jika kebetulan sedang berada di kawasan Kota Gede, setelah memilih perhiasan perak dan mulai merasa lapar, tandanya sudah saatnya datang ke Sate Sapi Karang Paki Prapto. Lokasinya berada di pinggir alun-alun Karang, Kota Gede. Pak Prapto mulai berjualan sate sapi di alun-alun Karang sejak tahun 80-an. Pengunjung yang datang sebagian besar menggunakan kendaraan roda empat. “Kebanyakan pelanggan yang datang langganan lama yang membawa teman atau kerabat mereka makan di tempat ini. Begitu seterusnya,” ungkap putra Pak Prapto yang kini mengambil alih manajemen usaha sang ayah. Saya sadar mengapa para pelanggan lama membawa kolega atau kerabat mereka ke tempat ini. Potongan satenya cukup besar dan mantap di tiap gigitan. Begitu pula dengan bumbu kacang. Pantas jika warung berbentuk sederhana ini menjadi salah satu legenda.

Selain lesehan dan gudeg, Yogya juga terkenal dengan sajian mie yang unik. Mie kuning dimasak di atas anglo dengan potongan ayam kampung yang gurih. Ada banyak penjual bakmi yang cukup punya penggemar di Yogya. Salah satunya, Mie Yogya Pak Pele yang biasa mangkal di Keputren alun-alun Utara. Empat buah anglo menyala tidak putus sejak tempat ini mulai buka pada pukul 6 sore. Di atas anglo itu pesanan kami dimasak. Harum bumbu bercampur dengan telur bebek, suwiran ayam kampung, mie dan kaldu ayam segar menyeruak masuk ke dalam hidung. Menambah besar keinginan untuk segera menyantap. Sesudahnya, saya kebingungan mana yang kami favoritkan. Mie kuah yang segar dan enak atau mie goreng yang menambah semangat. Pilihan yang sulit, dan kami memutuskan untuk tidak memilih. Keduanya sama enak. Bila, ingin menjajal kelezatan mie Pak Pele, kesabaran sangat dibutuhkan. Banyaknya pembeli, membuat harus rela menunggu beberapa menit sampai pesanan tiba. Penantian yang layak diperjuangkan.

Masih soal mie, ada satu lagi tempat makan legendaris di Yogya. Rumah makan Sunkie. Bangunan kuno yang berdiri sejak tahun 40-an ini masih berdiri dengan kokoh. Bentuk bangunan masih sama seperti dulu. Begitu juga dengan menu. Tamie atau mie telur hanya akan bisa diumpai di tempat ini. Tang Lie Fang, generasi ketiga pemilik rumah makan ini membuat sendiri mie yang digunakan. “Saya membuat mie dua hari sekali. Saya sendiri yang memasak semua pesanan yang masuk,” ucap wanita berusia 69 tahun ini. Penyajian Tamie mengingatkan pada Ifumie. Hanya saja Tamie lebih tipis dan sedikit gosong. Tapi soal rasa, saya berani bertaruh Anda akan menjadi pelanggan rumah makan yang berlokasi di jalan Jagalan Beji ini.

Bicara soal kuliner popular di Yogya, tidak lengkap jika tidak menyebut warung Cak Koting yang terletak di Jalan Soetomo. Meski menu andalan bebek, ada banyak menu yang bisa dijumpai. Sebut saja babat, limpa, burung dara, ayam dan sambal terong (ini salah satu sajian favorit saya). Saat memasuki rumah makan yang dilengkapi dengan tenda dan meja besi dan kursi plastik, Pasti harus melongok mencari tempat kosong. Setiap hari tempat ini tidak pernah sepi pengunjung. Bebek goreng Cak Koting memang enak. Harum, lembut dan gurih. Menikmati sepotong bebek goreng dengan ditemani sambal terong, nikmat sekali. Babat dan limpa gorengnya juga ajibbbbbbbbb. Membuat lupa diri dan terus makan.

Angkringan dan Lesehan, Tempat Nongkrong Politisi, Sastrawan, Selebriti, Turis dan Mahasiswa

Ingin menikmati secangkir kopi panas sambil bertukar cerita dengan teman dan melepas tawa? Kalau sedang berada di Yogya, langsung arahkan tujuan ke angkringan Lik Man yang berlokasi di dekat stasiun Tugu. Ada kopi joss yang diracik istimewa. Satu gelas kopi panas mendidih ditambah sepotong arang panas. Arang? Ngga salah membaca kok. Kopi joss dilengkapi sepotong arang yang masih membara, dimasukkan ke dalam gelas kopi. Fungsinya untuk mengusir angin yang bersemayam di dalam tubuh jika berada di luar rumah sampai pagi hari. Jadi, acara nongkrong tidak akan dirusak dengan angin yang tinggal dan menimbulkan kembung. Dengan satu gelas kopi joss, malam panjang tidak akan membuat Anda mengantuk. Apalagi jika ditambah dengan ketan goreng, nasi kucing, sate telur puyuh, sate kikil dan berbagai macam jenis makanan kecil.

Lokasi angkringan Lik Man jauh dari eksklusif, tapi boleh percaya atau tidak, tempat ini juga menjadi lokasi nongkrong favorit selebriti, sastrawan sampai politisi. Jika Lik Man menyajikan nasi kucing yang mungil khas angkringan. Tidak demikian halnya dengan Sego Macam yang berlokasi di depan Fakultas Peternakan UGM. Macam menunjukkan ukuran nasi yang lebih besar dan menu pendukung yang lebih beragam. Nasi, tempe orek, oseng kacang panjang, soun goreng dan sambal kacang teri, waduh nikmat sekali. Pedas sambal kacang teri menggigit lidah dan mendorong kami menyuapkan lebih banyak nasi dan lauk pendukung lain. Trik yang sangat cerdas. Untuk membantu menikmati malam, secangkir kopi klothok pilihan yang tepat. Klothok terbuat dari fermentasi alkohol yang tercipta dari pembuatan kopi. Saya memilih kopi klothok mocca yang kental dengan rasa susu jahe, cream dan kayu manis.

4 Kali Jatuh Cinta Dengan Menu Yang Sama

Meski hati sudah terpincut gudeg Yu Djum, tetap saja kurang afdal rasanya jika tidak mencoba gudeg lain yang ada di kota ini. Di depan Mirota Bakery Jalan Gejayan saya menemukan Gudeg Bu Sasya yang dijual dengan gaya lesehan. Gudeg ini hanya muncul di malam hari. Malam pertama, saya datang terlambat. Malam kedua, giliran Bu Sasya yang tidak berjualan karena tidak enak badan. Baru malam ketiga saya bertemu Bu Sasya dan mencicipi secara langsung gudeg yang banyak dinanti warga Yogya di tengah malam ini. Hati saya sekarang terbelah. Bu Sasya ternyata tidak kalah mumpuni dengan Yu Djum. Gudeg Bu Sasya mampu memikat kami. Boleh kan, kami mencintai dua wanita bertangan dingin ini?

Itu yang ada di pikiran saya pada saat itu. Setelah terbuai gudeg Bu Sasya, saya sama sekali tidak menyangka kejadian yang sama akan terulang saat berjalan ke daerah bioskop Permata. Gudeg Permata Yu Narti ini mulai buka pukul setengah sembilan malam. Saya sampai pukul 11 dan antrean sudah panjang. Kepulan nasi panas dan teriakan pembeli menyebutkan lauk pilihan membuat kami termangu. Ada rasa takut menggerogoti hati. Jangan-jangan sayabakal jatuh cinta lagi? Waduh, kalau kejadian, bisa menjadi hattrick gudeg. Ternyata ketakutan itu menjadi nyata. Lagi-lagi kami jatuh cinta. Bukan berarti kami mudah jatuh cinta, tapi apa daya, makanan enak tidak bisa dengan mudah dilupakan.

Ketiga gudeg olahan, tiga wanita berbeda sudah membuat saya jatuh hati. Meski masing-masing penjual mempunyai ciri khas, ada satu yang sama. Lauk pauk yang menemani gudeg terdiri dari ayam, telur, tahu, dan tempe. Kombinasi unik baru saya temukan di kawasan pinggiran Yogya, atau lebih tepatnya di wilayah Kabupaten Bantul. Menemukan lokasi ini sama seperti mengikuti acara Amazing Race. Banyak berhenti dan banyak bertanya. Muncul keraguan ketika arah yang ditunjukkan membawa saya ke wilayah perkampungan. Salah jalan. Itu yang ada dipikiran .Tapi melihat sebuah papan nama berukuran besar dengan logo perusahaan rokok besar menghilangkan keraguan. Papan penunjuk terpasang di depan gang kecil dan tidak ada tanda-tanda rumah makan di sana. Terlanjur basah, saya memasuki gang di kawasan perkampungan itu. Setelah melangkah 50 meter kami melihat warung dan bertanya. “Warung Sego Nggeneng di mana ya Mbak?” tanya saya dengan sedikit tidak pede. “Oh, di sana Mbak, balik lagi dan belok kiri,” ujar pemilik warung. Tidak lama kami sampai di rumah makan yang dituju.

Sebuah rumah. Itu yang saya cari. “Masuk saja langsung ke dapur Mbak. Pesannya di sana." Di dalam dapur, Mbah Martodiryo duduk dan melayani pelanggan. Beberapa pelanggan berasal dari Jakarta. “Setiap kali pulang ke Yogya, saya pasti ke sini,” ungkap seorang pelanggan yang kini tinggal di Jakarta. Seperti Yu Djum, Bu Sasya dan Yu Narti, Mbah Martodiryo juga menjual gudeg. Perbedaan ada pada lauk pelengkap. Mangut Lele membuat gudeg Mbah Martodiryo terasa beda. Begitu juga dengan tambahan daun pepaya pada olahan gudeg. “Kalau ndak enak, tidak usah bayar Mbak,” janji Mbah Marto. Tentu saja hal itu tidak terjadi karena gudeg dan Lele Mangut Mbah Marto dahsyat.

Berburu Oleh-oleh dan Makanan di Pasar Beringhardjo

Pasar Beringharjo, pusat kulakan batik di Yogya ini juga dikenal sebagai lokasi yang biasa didatangi penjelajah kuliner. Sambil mencuci mata dan memilih beberapa potong batik berpotongan indah, saya melangkahkan kaki masuk makin dalam. Di lantai dua, mampir ke kedai Ratengan Bu Warno. Ratengan berarti serba matang. Semua makanan yang dijual sudah matang. Pilihan saya, ratengan daging sapi yang sudah dibacem dan diungkep sehari semalam, kemudian digoreng. Beberapa potong daging sapi bacem ini disajikan di sebuah piring kecil dengan tambahan sambal. Sambil mencocol daging dengan sambal, kami mulai menikmati keempukan dan kelezatan rasa bacem. Ditambah sepiring nasi putih panas, siapa pun yang lewat tidak mungkin mengalihkan perhatian saya dari makanan ini.

Selesai berbelanja oleh-oleh berupa ratengan sapi dan abon, saya mampir ke kedai gado-gado Bu Hadi yang berada tepat di depan kedai Bu Warno. Sajian gado-gado ini sudah dijual di dalam pasar Beringharjo sejak puluhan tahun dan kini dijalankan oleh generasi ketiga. Bumbu gado-gado terasa legit dan sayur mayur yang digunakan masih segar. Selagi berada di dalam pasar, saya menyempatkan mampir di warung Pak Sukir, hanya untuk mencicipi semangkuk soto babat. Potongan babat memenuhi mangkuk soto dan menimbulkan sensasi luar biasa. Pak Sukir ini sudah berjualan di dalam pasar Beringharjo sejak 1958, dan tidak pernah sepi pengunjung. Alasan mereka selalu datang karena semangkuk soto yang hao chi senjingbing.