Sunday, December 5, 2010

Menikmati Sajian Kuliner Khas Makassar

Banyak sebutan yang dialamatkan pada kota yang berada di wilayah Indonesia Timur ini. Kota Angin Mamiri, Ujung Pandang sampai Makassar, nama yang resmi disematkan pada kota asal mantan Wapres Jusuf Kalla ini. Terlepas dari banyaknya nama dan panjangnya sejarah yang ditorehkan Makassar, kota ini pun dikenal sebagai surga makanan enak, seperti Sop Konro atau Coto Makassar, makanan khas Makassar yang banyak terdapat di Jakarta. Tetapi mencicipi makanan khas langsung di daerahnya tentu saja berbeda. Selain itu, masih banyak jenis makanan lain yang membuat kota ini pas dijadikan destinasi kuliner. Makanan pinggir jalan yang hanya bisa ditemukan di pinggir pantai pun tidak kalah nikmat. Ada juga beraneka hidangan laut yang diracik dengan bumbu yang mampu membuat jatuh hati.

Rumah Makan Nelayan

Dibandingkan dengan beberapa resto seafood lainnya, tempat ini belum lama berdiri. Tapi resto favorit Farhan, Rossa, Maia Estianty, Yuni Shara dan Tantowi Yahya ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Apalagi jika sudah mencicipi Pete Cah Udang. Potongan pete yang renyah dan manis udang berpadu sempurna. Bahkan bagi yang tidak terbiasa makan pete pun, pasti bisa menikmati sajian ini. Jangan lupa juga mencicipi Ikan Bakar Rica bagi mereka yang doyan bertempur dengan rasa pedas, atau Ikan Bakar Parape bagi yang lebih suka rasa manis kecap yang dominan. Perasan lemon membuat rasa ikan jadi segar. Ditambah dengan potongan cabai merah dan hijau serta bawang merah. Makin lahap lah menyomot nasi dan ikan.

Jl. Ali Malaka No. 25

Makassar

T : (0411) 310523

Buka : 10.00-22.00

Harga : Rp.30.000-Rp.60.000


Rumah Makan Mie Titi Datu Museng

Rumah makan ini sudah berdiri sejak 1960-an. Sampai saat ini rumah makan ini sudah punya lima cabang. Rumah makan pertama dibuka di jalan Irian. Menjejakkan kaki di Makassar tapi belum mencoba mie ini, rugi rasanya. Sekilas mengingatkan pada sajian Lomie yang biasa ada di rumah makan Cina. Mie digoreng kering dan diberi kuah yang berisi ayam, ati, telur dan sawi hijau. Renyah mie kering terasa saat menyuapkan ke dalam mulut. Sementara kuah kaldu yang berisi ayam memberi rasa gurih. Lebih enak ditambah dengan beberapa sendok sambal serta perasan jeruk limau. Segar, gurih dan renyah. Beberapa selebriti seperti Dorce, Sultan Djorghi sampai Andi Malarangeng kerap nampak di antara para pelanggan rumah makan ini.

Jl. Datu Museng No.23

Pantai Losari, Makassar

Buka : 12.00-04.00

Harga : Rp.15.000


Rumah Makan Lae Lae

“Mau pilih ikan apa?” Pertanyaan itu yang akan muncul pertama kali masuk ke rumah makan yang beroperasi sejak 2000 silam. Pengunjung bebas memilih jenis ikan sesuai selera. Pilihan tertuju pada ikan baronang. Olahan pedas gaya rica-rica dipilih karena inilah yang paling populer dan menjadi andalan rumah makan ini. Rasa pedas dan segar tomat bercampur dengan wangi daun bawang dan daun kemangi. “Dalam sehari minimal 200 ekor ikan habis dikonsumsi pelanggan,” ungkap Pak Mochtar, pemilik rumah makan ini. Sejumlah politisi dan artis ibukota tergila-gila pada sajian khas rumah makan ini, sebut saja Agung Laksono, Wiranto dan Andi Malarangeng, Peterpan, Samson, Raja sampai Bondan Winarno. Ikan bakar biasanya membutuhkan waktu 15-20 menit sebelum sampai di atas meja. Sambil menunggu pesanan siap, Anda wajib mencoba otak-otak bakar ikan tenggiri. Rasa ikan terasa kuat di setiap gigitan. Bumbu kacang makin menambah nikmat cemilan penghantar makan ini.

Jl. Datu Museng No.8

Makassar

T : (0411) 334326

Buka : 12.00-15.00, 19.30-23.00

Harga : Rp.15.000-Rp.45.000


Rumah Makan Dinar

Puluhan kursi dan meja sudah terisi pengunjung saat saya sampai ke rumah makan yang menyajikan ayam goreng dan seafood ini. Sehari sebelumnya, juga sempat mampir dan tidak kebagian tempat duduk. Kali ini, saya menunggu sebentar sampai ada bangku dan meja kosong. Tidak berapa lama, duduk dan mulai membolak-balik menu yang ada di atas meja. Ikan Bakar Parape, Kangkung Blacan dan Udang Sambal Pete menjadi menu pilihan. Meski menu Udang Sambal Pete mengingatkan pada menu yang hampir sama di resto lain, tapi setelah dicicipi baru terasa perbedaannya. Ada rasa asam, manis dan pedas dalam satu suapan. Tidak hanya itu, ada daun selada serta tomat yang menambah nikmat. Usai makan coba Nanas Italy, minuman rasa nanas bercampur dengan susu. Segar dan manis nanas yang berasal dari Italia ini niscaya menjadi penutup hidangan istimewa.

Jl. Lamadukelleng No.68

Makassar

T : (0411) 871488

Buka : 11.00-15.00, 17.30-22.30

Harga : Rp.22.500-Rp.120.000


Hidangan Aroma Coto Gagak

Biasanya, makanan enak dan populer dari sebuah kota tidak ditemukan di hotel berbintang atau pun resto fine dining. Makanan seperti itu biasanya ditemukan di pinggir jalan. Terlepas dari letaknya yang kurang memadai, makanan seperti ini tidak pernah sepi dari pembeli.Salah satunya warung Coto Gagak. Sehari warung ini bisa menyajikan lebih dari 1000 mangkuk coto. Meski hanya berupa warung sederhana, warung ini sudah pernah didatangi menteri dan selebriti. H. Jamaluddin, pemilik warung yang sudah berjualan sejak tahun 1975 sudah tak mampu lagi menyebutkan orang penting yang penjadi pelanggan saking banyaknya. Untuk menjaga kualitas rasa, coto masih dimasak dengan cara lama, menggunakan kayu bakar dan belanga tanah liat. Isi coto beragam, mulai dari daging sampai jeroan. Dimakan dengan ketupat dan sambal, wow mantap!

Jl. Gagak No.27

Makassar

Buka 24 jam

Harga : Rp.7.000


Rumah Makan Sop Saudara

Sepanjang jalan Irian, ada beberapa tempat makan enak yang menjadi kebanggaan masyarakat Makassar, salah satunya rumah makan Sop Saudara. Ada sop konro, sop kikil dan sop saudara. Menurut H. Syarifuddin, sang pemilik, coto ini terdiri dari daging dan beraneka jenis jeroan yang bisa dipilih sesuai selera. Coto ini dibuat dari susu sapi. sop konro atau sop kikil, shanya dijual pada saat malam. Setelah menjajal tiga jenis sop, sop konro juaranya. Kuahnya gurih tapi tidak terlalu berlemak. Sambil menggerogoti daging yang masih sedikit menempel, juga bisa menyesap sumsum tulangnya. Hmmmmmm yummy.

Jl. Irian No.34

Makassar

Buka : 17.00-06.00, 09.00-17.00

Harga : Rp.10.000-Rp.18.000


Rumah Makan Aan Ping Lao

Kawasan jalan Sulawesi, Makassar dikenal sebagai wilayah Chinatown. Di daerah ini banyak ruko yang beralih fungsi menjadi tempat makan. Sajian yang ditawarkan pun beraneka ragam. Mulai dari nasi goreng merah khas Makassar, mie ayam, mie pangsit atau pun bubur. Di antara beberapa rumah makan khas Pecinan di kawasan ini, unggulannya Aan Ping Lao. Bukan tanpa alasan saya mengunggulkan rumah makan yang sudah berdiri sejak 1949 ini. Beberapa teman, kolega, bahkan selebriti merekomendasikan tempat ini. Andalannya tentu mie pangsit dan bubur. Sebelum makan ada baiknya memastikan mereka tidak menaruh potongan daging babi di makanan yang Anda pesan, terutama bagi yang muslim.

Jl. Sulawesi No.188

Makassar

T : (0411) 318537

Buka : 07.00-16.00

Harga : Rp.10.000-Rp.20.000


Rumah Makan Bravo

Udara panas yang menghujani kota Makassar membuat tenggorokan terasa kering dan paling enak menyantap sesuatu yang dingin dan menyegarkan. es pallubutung dan es pisang hijau. jawabannya. Dua dessert andalan Makassar ini saya temukan di resto yang sudah beroperasi selama dua puluh tahun. Rasa pisang kepok dan pisang raja tidak hilang meski diberi tambahan tepung beras, susu dan sirup serta potongan es baru yang segar. Pemilihan pisang yang matang dan manis membuat dessert ini terasa istimewa. Sementara tepung beras membuat kuah terasa kental dan melebur sempurna dengan pisang. Sementara campuran susu dan sirup membuat tidak bisa berhenti menyuap.

Jl. Andalas No.154

Makassar

T : (0411) 323045

Buka : 08.00-22.00

Harga : Rp. 10.000


Rumah Makan Paotere

Kalau SBY dan Jusuf Kalla saja menyempatkan waktu makan di tempat ini, rasanya tidak perlu penjelasan lagi mengapa saya memilih resto spesialisasi sajian seafood bakar ini ke dalam daftar tempat favorit. Ikan bandeng bakar menjadi pilihan utama. Bumbu meresap sampai ke dalam. Gurih, manis dan wangi memancing napsu makan. Apalagi ditambah cocolan sambal yang pedas. Dijamin fokus hanya tertuju pada makanan. Pantas saja jika sehari, resto ini menghabiskan 250 ekor ikan bandeng. Selain bandeng, juga tersedia ikan kuwe, baronang. Tapi entah mengapa, tidak ada yang menandingi kedahsyatan ikan bandeng bakar resto yang berdiri sejak 1993 ini.

Jl.Sabutung Paotere No.46

Makassar

T : (0411) 326366

Buka : 09.00-22.00

Harga : Rp.12.000-Rp.50.000


Warung Pallubasa Serigala

“Ini makanan paling hebat,” ungkap seorang teman sambil melahap semangkuk sup pallubasa. Untuk bisa menjajal sop ini, harus bolak balik beberapa kali karena selalu kehabisan. Kedatangan terakhir, rela diguyur hujan rintik-rintik sambil menunggu pengunjung lain selesai makan. Tempat makan yang sederhana ini tidak memungkinkan menampung jumlah pengunjung yang mengalir tanpa henti. Penantian selama kurang lebih satu jam itu tidak sia-sia. Kuah sup masih mengepul saat seorang pelayan menghantarnya ke atas meja. Harum kuah membuat tidak sabar mencicipi. Tampilannya unik. Telur mentah dicampur di kuah santan yang mendidih. Beragam jenis bumbu dan rempah-rempah langsung terasa disuapan pertama. Isi sup pun unik. Mulai dari daging, kikil, kepala sapi, jeroan sampai lemak sapi bercampur tapi tidak membuat enek. “Satu mangkuk sih tidak akan cukup,” ungkap salah seorang teman yang menemani perburuan ini. Ucapannya tidak berlebihan. Masing-masing kami menghabiskan dua mangkuk sop pallubasa. Kabar gembiranya, jika Anda tergoda makan sup ini tapi belum ada waktu berangkat ke Makassar, tahun ini, mereka berencana membuka cabang di Jakarta. Tepatnya di kawasan Senopati.

Jl. Serigala, Makassar

Buka : 08.30-22.00

Harga : 12.000


Pisang Epe

Disepanjang pantai Losari, ada banyak pedagang kaki lima yang menyajikan pisang Epe. Pada dasarnya, pisang Epe tidak banyak berbeda dengan pisang bakar yang banyak dijual di ibukota. Bedanya, pisang Epe menggunakan kuah gula merah yang membuat rasa pisang kepok yang dijepit dan dibakar ini terasa lebih legit. Ada beberapa pilihan rasa yang bisa dicoba. Mulai dari coklat, keju, kelapa, sampai durian, atau rasa original hanya dengan lelehan gula merah. Tapi jangan terkejut jika satu porsi pisang Epe harus Anda tebus dengan harga 15 ribu rupiah. Meski begitu Pak Uding, penjual pisang epe yang sudah mangkal di jalan Penghibur, pantai Losari sejak tahun 80-an ini mengaku tidak pernah sepi pengunjung.

Jl. Penghibur, pantai Losari

Buka : 15.00-01.00 (Senin-Jumat)

15.00-10.00 (Sabtu-Minggu)

Tuesday, November 30, 2010

Battle of Nasi Lemak

Kalau ada satu makanan yang melambangkan kuliner Malaysia, Nasi Lemak lah yang bakal masuk ke urutan pertama. Setiap orang yang berkunjung ke Malaysia pasti pernah mencicipi menu ini, paling sedikit sekali. Teman saya menyebutnya sebagai nasi uduk gaya Melayu. Mungkin karena nasinya sama-sama gurih. Selama hampir empat tahun pacaran dengan orang Malaysia (sumpah, ini bukan curhat colongan tersembunyi), saya sudah mencoba berbagai macam Nasi Lemak. Mulai yang dijual di kaki lima sampai yang ada di restoran. Secara pribadi, sekali lagi ini pendapat pribadi, saya tidak terlalu suka dengan menu yang satu ini. Bukan karena tidak enak. Tapi karena kebanyakan lauk. Jadi bingung mau makan yang mana dulu. Mau konsentrasi dengan yang mana. Satu porsi nasi lemak biasanya terdiri dari telur goreng atau telur bulat bumbu pedas, sambal goreng teri, ayam goreng atau ayam kari dan rendang dan sambal terasi. Nah loh, kalau udah sebanyak begini, mau makan yang mana dulu pasti bingung kan? Seringkali berakhir dengan kenyang sebelum mulai makan. ha ha ha. Tapi lebih sering lagi, terpaksa tambah nasi dengan alasan lauk masih ada dan tambah lauk karena nasi masih sisa. Hahahaha. Ini mah, rakus namanya bukan?

Eniwei busway, buat yang sering komplain nasi lemak itu nggak enak, bagaimana kalau Anda datang ke pusat pertarungan Nasi Lemak terdahsyat di Kampung Baru, Kuala Lumpur. Kawasan ini bisa dibilang sebagai kawasan kuliner. Banyak tempat makan enak dan legendaris di sini dan juga tempat lahirnya dua mereka Nasi Lemak paling populer di Malaysia, Nasi Lemak Antar Bangsa dan Nasi Lemak Mak Wanjor. Berdasarkan popularitas, Nasi Lemak Antar Bangsa lebih populer dan maju karena sudah membuka cabang di mana-mana. Restorannya yang bergaya eksklusif dengan AC dan wifi juga ada. Walaupun pusatnya masih ada di Kampung Baru dengan tempat yang lebih sederhana. Tapi kalau urusan pioner, Mak Wanjor inilah juaranya. Mak Wanjor almarhumah mulai berjualan nasi lemak sejak 1960-an. Menurut cerita dari mantu Mak Wanjor yang kini mengelola usaha ini, ada hubungan antara Mak Wanjor dengan pemilik Nasi Lemak Antar Bangsa. Konon kabarnya, pemilik Nasi Lemak Antar Bangsa pernah berguru pada Mak Wanjor dan kemudian setelah mendapat ilmu, sang murid membuka warung sendiri. Meski terlihat lebih sukses, Mak Wanjor tidak kehilangan pesonanya. Paling tidak Sultan Brunei masih tetap jadi pelanggan setianya. Setiap berkunjung ke Kuala Lumpur, Sultan Halsonal Bolkiah selalu mengutus ajudannya untuk membawa nasi lemak. "Rasa kami tidak befrubah. Sultan Brunei paling suka dengan sambalnya. Rasa sambal di sini lebih manis," ungkap mantu Mak Wanjor. Memang benar, sambal di sini tidak pedas, lebih cenderung manis pedas. Berbeda dengan sambal di Nasi Lemak Antar Bangsa yang cenderung lebih pedas.

Segi rasa, sedikit sulit dibedakan. Rasanya hampir sama. Menu yang disajikan pun mirip-mirip. Perbedaan mencolok memang pada sambalnya. Terlepas dari popularitas dan pioner, secara personal kok saya lebih suka dengan Nasi Lemak Raja Abdullah, yang berada di jalan Raja Abdullah, masih di kawasan Kampung Baru juga. Warung ini usianya lebih muda dibanding dua pendahulunya, tapi menurut saya rasanya justru paling enak. Apalagi paru gorengnya. Renyah dan gurih. Menu yang paling cepat habis. Mulai jam 7 pagi, warung nasi lemak ini sudah pasti penuh orang. Siap-siap antre deh kalau mau makan di sini.

Jajanan Dong Dae Mun



Selama tiga minggu berada di Seoul, saya menginap di hotel bergaya apartemen minimalis Coop Residence di kawasan Dong Dae Mun, salah satu pusat belanja paling besar di Seoul. Lokasi penginapan ini sangat strategis. Lima menit dari stasiun MRT dan pusat perbelanjaan Doosan, Migliore dan APM. Saya jatuh cinta dengan kawasan Dong Dae Mun dengan hiruk pikuknya di siang dan terutama malam hari. Teman bermain yang paling menyenangkan buat saya hobi jajan dan belanja. Di sini, outlet Face Shop dan Body Shop dibangun bersebelahan. Tidak jauh ada Skin Food dan Missha dan Etude, tiga merek kosmetik yang cukup populer di Korea. Harga bersaing dan masing-masing toko menawarkan hadiah yang membuat tukang belanja kumatan kayak saya ngiler. Siapa yang nggak senang belanja lipgloss dikasih hadiah perawatan wajah sachet yang bisa dipake 2-3 hari. Makin besar jumlah belanjaan, makin banyak hadiah. Beberapa hadiahnya saya jadikan oleh-oleh dan diterima dengan sukacita oleh teman-teman. Dan tidak satu pun dari mereka yang tau kalau itu adalah barang hadiah. Ha ha ha. Soal harga juga bikin muka sumringah. Lipstick, lipgloss dan mascara harganya bisa setengah dari bandrol yang ada di Jakarta. Siapa yang tidak panik melihatnya. Biasa beli lipstick seharga 80 ribu, di sini hanya 40 ribu rupiah saja. Wajar kalau 1/4 uang saku saya akhirnyaq habis untuk membeli perlengkapan make up.

Tapi belanja make up bukan alasan utama saya menulis blog ini. Walaupun belanja make up di Dong Dae Mun menyenangkan, saya lebih tertarik dengan makanan. Well, nggak usah terlalu heran lah. For me, traveling is about eating. Dan di Dong Dae Mun inilah, perjalanan saya menjelajah street food Korea dimulai. Sore hari, bibir jalan di kawasan Dong Dae Mun dipenuhi dengan pedagang kaki lima. Di sini saya kenal makanan seperti Japchae, Mandu, Toppoki (ini jajanan favorit saya) dan jajanan yang ditusuk seperti sate. Ada cumi goreng tepung, sosis, ada sosis bungkus roti dan french fries yang super enak dan bulgogi. Makanan ini yang menemani malam-malam yang saya habiskan di depan mal APM sambil menonton anak-anak muda yang lomba dance atau nyanyi dengan harapan suatu saat bisa sesukses Shinhwa, Super Junior atau 2 PM. Selain enak, jajanan kaki lima ini top banget karena harganya yang murah. Rata-rata hanya 10 ribu rupiah saja. Ukurannya pun besar banget sampai bisa jadi pengganti makan malam. Murah, enak dan mengenyangkan. Kombinasi favorit tukang jajan seperti saya. Karena saat itu masih musim dingin, makanan yang hangat ini mampu membantu melawan dingin. Love those carbs. Ha ha ha ha. Tapi, buat yang tidak bisa makan babi kudu hati-hati. Hampir semua sosis yang dijual di kedai kaki lima, terbuat dari daging babi. Bahkan ketika saya belanja ke supermarket terbesar di Korea pun, tidak ada sosis sapi. Yang ada hanya sosis babi dengan varian yang banyak sekali. Dan semuanya enak. Eh, jadi ngelantur, tapi terusin aja dulu. Di Korea, kalau kita belanja ke supermarket, hampir semua jenis makanan ada tester-nya. Jadi bisa icip-icip. Lumayan lah, kalau keliling dua kali nggak perlu makan siang kan? Ha ha ha ha.

Kembali ke topik jajanan Dong Dae Mun, toppoki masuk dalam daftar must try food. Makanan ini terbuat dari tepung berasa dan teksturnya kenyal yang dimasak dengan saus Korea yang pedas. Yummy. Ada beberapa pedagang yang menjual toppoki dengan saus yang tidak terlalu pedas. Tapi saya lebih suka yang pedas. Lebih nendang dan nggigit. Karena jajannya di kaki lima, saat beli, toppoki dimasukkan ke dalam wadah plastik dengan garpu plastik. Saya biasanya menggabungkan toppoki dengan cumi goreng atau bakar. Gimana ya, sebagai meat lover, kalau cuma makan karbohidrat tanpa ada tambahan daging rasanya kurang afdol. But thats me. Without any meat, toppoki sih enak-enak aja. Mau buat sendiri juga nggak susah. Saya membeli beberapa bungkus toppoki untuk dibawa pulang. Saya tinggal memasukkan potongan toppoki ke dalam air mendidih dan biarkan sampai matang, setelah itu diangkat dan m asukkan dengan saus yang sudah dipanaskan. Tinggal sajikan sambil nonton drama Korea. Otuke...otuke..otuke, Opa...Sarange.

*Jadi kangen pengen ke Dong Dae Mun lagi. Apalagi pas ke Singapur ketemu jajanan khas Dong Dae Mun di basement 2 menuju MRT station di Plaza Singapura*

Thursday, November 25, 2010

Kopi Tiam




Ngopi yuk! Siapa sih yang nggak pernah mendapat ajakan menghirup cairan dari biji kopi yang langsung membangunkan semua syaraf dalam tubuh untuk bergerak ini. Ngopi jadi kebutuhan. Ketemuan dengan klien atau meeting dengan bos kadang dilakukan di kedai kopi. Sebagai peminum kopi, saya sangat menikmati kalau ada ajakan ngopi. Kadang dalam sehari bisa ngopi dua sampai tiga gelas kopi. Buat saya itu bukan masalah. Hanya waktu tidur saya saja yang harus mundur menunggu pudarnya reaksi kafein dalam tubuh. Meskipun pecinta kopi, saya tidak terlalu suka ngopi di kedai kopi internasional yang punya cabang bejibun. Saya tidak bilang kopi yang mereka sajikan tidak enak. Tapi saya merasa hentakan kopinya kurang nendang. Rasa susu atau campuran rasa lainnya lebih kentara ketimbang kopinya sendiri. It's a cup of coffee, I believe that the coffee should be the HERO and not the other way around. Karena alasan inilah saya lebih suka ngopi di kedai kopi yang lebih pas disebut sebagai Kopi Tiam.

Kopi Tiam pada dasarnya merupakan tempat ngopi yang biasa dijadikan tempat sarapan masyarakat Malaysia dan Singapura. Sebuah kedai bisa disebut sebagai Kopi Tiam kalau menyajikan kopi O atau kopi hitam dalam menunya. Dalam perkembangannya Kopi Tiam tidak hanya menyajikan kopi O atau Kopi C (kopi susu) tapi juga toast. Ada dua jenis toast yang sangat kental dengan sejarah kedai koipi di Malaysia dan Singapura. Kaya dan Kacang. Telur setengah matang pun kemudian masuk melengkapi menu yang ada di Kopi Tiam. Biasanya Kopi Tiam di Malaysia dan Singapura sudah mulai beroperasi pukul 6 pagi. Para pekerja keluar dari rumah untuk sarapan singkat di kedai kopi. Tetua menghabiskan waktu di Kopi Tiam untuk membaca buku atau membicarakan masa lalu.

Sebagian besar orang Indonesia yang sering datang ke Singapura pasti mengenal Ya Kun Kaya Toast. Salah satu kedai kopi atau Kopi Tiam yang terkenal di sana. Jumlah outletnya sudah tidak terhitung lagi dan mengklaim diri sebagai pelopor Kopi Tiam. Klaim ini boleh saja. Karena kopi tiam yang beroperasi sejak 1944 ini merupakan kopi tiam yang melakukan ekspansi besar-besaran sehingga membuat persaingan di bisnis kedai kopi di Singapura makin berkembang. Keunikan Ya Kun Kaya buat saya terletak dari rotinya yang di toast kering dengan olesan sarikaya yang manis dan gurihnya pas. Jujur, selai sarikaya di kopi tiam ini memang jempolan. Sedikit sulit dicari tandingannya. Atau paling tidak, di antara kedai kopi yang bergaya eksklusif yang sudah dikelola secara modern, Ya Kun Kaya Toast masih dibilang terbaik. Tapi kalau bicara rasa, saya merasa lebih suka dengan sebuah kopi tiam di kawasan East Coast. Tempatnya sederhana dan sebagian besar yang datang ke sini adalah penduduk lokal yang sudah tinggal puluhan tahun. Kedai kopi ini buka sejak awal tahun 1900-an. Dikelola secara tradisional turun temurun. Yang paling saya suka, alat minum yang digunakan masih menggunakan cangkir keramik. Takaran kopi dan susunya pas. Dijamin langsung melek begitu menghirup kopinya. Toast-nya juga mantap. Selai kayanya lembut dan manis. Potongan margarin membuat rasanya makin ok. Warung boleh sederhana. Tapi untuk rasa, sangat jauh dari kata sederhana. Kaya rasa dan sejarah. Tempat yang menurut saya paling pas untuk menggambarkan sebuah Kopi Tiam yang sebenarnya. Kedai kopi tempat sarapan yang sudah merekat kuat dalam kehidupan masyarakat Singapura.

Selain Malaysia, tradisi ngopi di Kopi Tiam juga merambah Indonesia. Jauh sebelum tempat ngopi memberi label usaha mereka dengan embel-embel Kopi Tiam, bentuk kedai kopi khas Singapura ini pertama merambah ke Medan. Dari kota ini, Kopi Tiam mulai tumbuh di kota lain. Di Bandung, kopi tiam pertama muncul pada 1920-an. Menu yang disediakan sedikit beda dibandingkan dengan kopi tiam di Singapura. Di sini, menu andalannya toast gula palem yang jadul banget. Buat para meat lover ada roti dadar ham. Ini tidak halal ya. Kopi masih menggunakan cangkir, walaupun bukan cangkir keramik jadul seperti yang di Singapura. Kopi di sini menggunakan kopi pabrikan Aroma yang berjarak beberapa meter saja. Ruangan restoran dan interorior serta furniturnya masih jadul. Jadi nuansa masa lalu dan kuno masih terjaga kuat. Kedai ini sudah buka sejak jam 7 pagi. Kopi Purnama sekarang dikelola oleh generasi ketiga yang memberikan warna yang berbeda pada varian menu yang disajikan. Selain roti ada bakmoy dan masakan lainnya. Jadi sarapan dengan makanan besar dan nasi yang Indonesia banget juga bisa dilakukan.

Sama jadulnya dengan Kopi Purnama, di Jakarta ada kedai Tak Kie yang juga sudah dikelola generasi ketiga. Kopi Tiam yang sudah berdiri sejak awal 1900-an di kawasan Gloria, Jakarta Barat ini mulai buka sejak jam 6 pagi. Kopi tidak disajikan dalam cangkir keramik atau porselain melainkan gelas kaca berukuran besar. Ada kopi O atau kopi hitam dan kopi susu. Jenis susu yang digunakan pun masih dari merek jadul. Saya selalu teringat kopi buatan nenek saat menghirup kopi di sini. Dan saya suka suasana pecinan yang hiruk pikuk. Melihat engkong dengan kaos singlet dan celana pendek menghirup kopi sambil membaca koran atau ngobrol dengan temannya. Ada juga yang main mahjong. Tanpa uang pastinya. Sekedar membuat waktu bersama teman-teman seusianya. Selain kopi, saya suka sarapan nasi campur atau mie yang sudah ada sejak dikelola generasi kedua. Generasi kedua yang usianya sudah memasuki 70 tahun ini masih masak dan tubuhnya terlihat masih sehat. Jam 12-an, Tak Kie sudah tutup. Jadi kalau mau ngopi ya harus datang pagi.

Kopi Tiam yang terbaru ya Kopi Tiam Oey yang dimiliki Bondan Winarno. Saya kagum dengan kecintaan Pak Bondan pada makanan dan sejarahnya. Kopi Tiam Oey membawa suasana kopi tiam jadul dengan poster-poster jadul dan furnitur yang sangat kopi tiam. Sehingga mau tidak mau siapa pun yang masuk akan merasa masuk kembali ke masa lalu. Pecinta kopi pasti menikmati keberadaan kopi tiam. Saya suka dengan Vietnam Coffee yang menurut saya dikomposisi dengan sempurna. Saya seperti merasakan minum kopi di pinggiran jalan di Ho Chi Minh City. Kuat, kental dan manisnya pas. Love it. Menu makanan di sini sangat banyak. Mulai dari roti, roti cane sampai nasi.




Bandung
Kopi Purnama
Jl. Alkateri No. 22

Jakarta
Kopi Tiam Oey
Jl. Agus Salim No. 18
T : 021 3924475

Kedai Kopi Tak Kie
Gloria, Glodok
Jakarta Barat

Monday, November 1, 2010

Menikmati Hidangan Italia di Pantai Kuta Selatan

People will envy you when you are in Envy. Hangout place yang tengah happening di kawasan Jalan Wana Segara,Tuban. Tempat memadukan rangkaian menu kuliner yang menerbitkan selera serta hiburan khas eksekutif muda berlatar belakang keindahan pantai Selatan Kuta. Bagi yang suka suasana romantis, bisa memilih area di pinggir pantai ditemani serangkaian cocktail, pizza atau serangkaian finger foods pilihan sambil berleha-leha di atas sofa cabanas nyaman yang menghadap ke laut. Segelas Mojito dan Espresso Martini menjadi favorit saya. Kesegaran mojito bercampur biji markisa terasa segar disesap di sore hari. Sementara Espresso Martini membuat mata langsung melek. Pekat rasa espresso mengimbangi martini. Sulit bagi saya untuk meletakkan minuman ini setelah tegukkan pertama. Sebatang tebu dimasukkan ke dalam gelas sebagai pengaduk dan diakhir tegukan, ggigit dan serap manisnya tebu. What a perfect ending.

Sebagai pecinta sunset, saya sangat menikmati bersantai sambil menikmati musik yang mengundang tubuh bergoyang, bisa memilih area bar. Alunan musik pilihan DJ Aan memberi irama yang memeriahkan suasana sore dan malam di pinggir pantai. Menjelang malam, area bar dan taman lokasi yang sempurna untuk menyantap makan malam dengan makanan khas Italia yang diracik chef Christfian Surjanto yang menimba ilmu di Alma Cooking School. Pizza-nya is so delicious. Kulit pizza yang tipis dan renyah dengan topping yang kental dengan citarasa Italia terlalu sayang untuk dilewatkan. Teman saya yang tidak kenyang hanya dengan tiga potong pizza lebih memilih makan steak. Well, in this resto, the steak is just delicious and juicy. My medium rare steak is just perfecto. Delicioso.

Envy

Holiday Inn Resort Baruna Bali

Jalan Wana Segara No.33

Kuta Selatan

Telp : (0361) 752 527

Buka : 11.00-24.00

Harga : Rp.30.000-Rp.250.000

Tuesday, October 19, 2010

Pulau Macan : A Step Away Paradise






Bola api berwarna oranye itu membakar langit. Tampak kontras dengan langit yang berwarna biru jernih. Perlahan-lahan bola api itu tenggelam dan menyisakan semburat warna oranye dan keunikan yang sangat cantik. Lima belas pasang mata, menatap langit tanpa berkedip. Terduduk dalam diam sampai akhirnya semburat warna yang menerangi langit di depan mata benar-benar menghilang dan menyisakan kegelapan. Saatnya Bob Marley dan Imanes beraksi mendendangkan lagu reggae sambil menenteng sekaleng bir dingin dan tertawa bersama teman-teman

Dermaga 6, Marina Ancol masih terlihat sepi. Waktu baru menunjukkan pukul 7 pagi. Sepasang ekspatriat duduk di bangku plastik sambil mengobrol sementara seorang pemuda Jepang asyik mendengarkan lagu dari Ipod tanpa memedulikan sekitarnya. Sementara tiga orang perempuan asyik ngobrol sambil tertawa-tawa. Tepat pukul delapan pagi, semua berjalan menuju speed boat yang membawa rombongan ke pulau Macan yang ditempuh dengan waktu 1,5 jam. Kalau udara sedang cerah, perjalanan dilalui dengan mulus, tapi kalau cuaca mendung dan hujan, siap-siap menghadapi benturan-benturan. Begitu kapal merapat ke dermaga, sebuah pulau kecil yang bersahabat tampak di depan mata. “Sulit rasanya percaya, kami sekarang berada selangkah dari Jakarta. Tempat ini sangat indah,” ungkap Rob dan Kate, pasangan suami istri asal Inggris yang baru dua bulan tinggal di Jakarta ini. Untuk mengelilingi pulau hanya memerlukan waktu 5 menit saja. Pohon-pohon yang hijau melindungi dari sengatan sinar matahari. Setelah mengelilingi pulau dan beristirahat sambil melahap sandwich vegetarian yang lezat dan meneguk segelas jus buah, saatnya menaruh tas ke dalam kamar.

Kurang lebih ada 10 kamar yang disediakan dan bisa menampung 35 orang. Kamar paling mengesankan Sunset Suite yang berada di dek yang menghadap ke pantai. Dari dek ini, Anda bisa menikmati sunset yang indah. Kasur berkembu dengan bantal dan guling siap menemani Anda tidur. Buka tirai jika ingin angin masuk lebih banyak. Tidak ada AC, hanya kipas angin. Untuk penghematan energi, sebaiknya kipas dinyalakan saat Anda benar-benar memerlukannya. Selain Sunset Suite, ada juga kamar lain yang menyerupai panggung yang menghadap ke pantai dengan ukuran yang lebih kecil. Ingin lebih menyatu dengan alam, Anda bisa memesan tenda yang dilengkapi dengan kasur dan bantal yang menjamin kenyamanan. Ada beberapa spot yang sudah disiapkan khusus untuk tenda. Kamar mandi berada tidak jauh dari pondok yang Anda pilih. Di sini, Anda diajak untuk lebih peduli dengan alam dengan tidak membuang-buang air bersih.

Pihak pengelola pulau Macan menyediakan itinerary kegiatan selama 2 hari 1 malam tinggal di sini. But this is your vacation, if you want relax and read the book, you are free to do so. Intinya, selama Anda berlibur, lakukan yang Anda suka. Yanny, wanita berambut pirang asal Inggris ini contohnya. Waktunya dihabiskan untuk berenang, snorkeling, kayaking keliling pulau, atau membaca buku sambil berjemur. “Seperti yang kamu lihat, susah untuk menarik saya keluar dari air,” ucap wanita yang tinggal di New Zealand ini.

Welcoming Kiss

Karangan bunga atau jus buah sih sudah banyak digunakan pengelola resort dan hotel untuk menyembut tamu yang datang. Hanya di pulau Macan, Anda mendapatkan ciuman sebagai ucapan selamat datang. Tunggu dulu, jangan terlalu bersemangat membayangkan pria ganteng berkulit putih atau bule cantik bermata biru yang mencium Anda, tapi ikan mungil yang ada di pinggir pantai. Gerombolan ikan Garra Rufa. Kalau arus sedang tidak deras, Anda tinggal duduk di atas tembok pembatas dan mencelupkan kaki dan biarkan mereka membersihkan kulit mati. Setelah puas bermain dengan ikan Garra Rufa, gunakan rubber shoes yang disediakan dan berenang atau snorkeling di sekitar pulau. Temukan Nemo yang sengaja ditebar di sekitar pulau. Atau Anda akan bertemu dengan ikan cantik berwarna pink yang justru mendekat dengan malu-malu saat Anda berenang mendekatinya.

Karang dan biota laut di sekitar pulau cukup cantik dan menarik. Ikan bergaris hitam putih dengan mudah bisa Anda temukan. Tapi, saat berenang, Anda harus berhati-hati terhadap Stone Fish atau Ikan Batu dan Bulu Babi dan Stingray Fish atau ikan pari yang banyak berkeliaran di sekitar pulau.“Pada dasarnya ikan batu tidak menyerang. Tapi manusia yang menginjak mereka. Dalam lima menit tubuh langsung bereaksi. Bagian yang terkena langsung membengkak. Bagian yang terkena harus segera dibersihkan dan diikat agar racun tidak menyebar. Berbeda dengan sengatan ikan pari. Taji ikan pari dengan mudah menembus kulit tapi mengeluarkannya yang sulit. Karena bergerigi. Biasanya lukanya akan mengeluarkan banyak darah. Kadang daging ikut terangkat,” ungkap Aeng, snorkeling guide di pulau Macan. Tapi, jangan sampai keceriaan dan kenikmatan bersenang-senang di pulau ini terganggu karena Anda ketakutan. Berhati-hati bukan berarti parno kan? Yang pasti, selalu kenakan rubber shoes setiap kali Anda berniat berenang di pantai. “Jangan takut dengan bulu babi. Saya sering mengambil bulu babi untuk dijadikan sashimi. Rasanya seperti telur ikan. Biasanya turis asal Jepang dan Korea mencari bulu babi. Berkhasiat untuk meningkatkan stamina dan keperkasaan buat pria,”ungkap pria yang juga bisa berbahasa Jepang ini.

Sekitar 500 meter dari pulau Macam, terdapat pulau kecil yang tak berpenghuni. Pantainya nyaman buat Anda yang ingin berjemur atau bermain air bersama teman-teman tanpa ingin diganggu oleh kehadiran orang lain. Pulau ini bisa dijangkau dengan mengayuh kayak atau boat karet yang sudah disediakan. Jangan lupa bawa semua perlengkapan berjemur. Pastikan ipod dan speaker tidak tertinggal. Bawa minuman dan bir dingin. Siapkan kantong khusus untuk membawa sampah. Jangan tinggalkan jejak sampah agar keindahan pulau mungil ini tidak ternoda.

Chef Terhebat di pulau Macan

Dapur Pulau Macan digawangi Ibu Painah. Kehebatan ibu Painah mengolah makanan sudah sangat tersohor. Salah seorang teman Urban Style yang sudah dua kali datang ke pulau ini merekomendasikan makanan olahan wanita setengah baya itu. Sayang, saat Urban Style menjejakkan kaki di pulau ini ibu Painah sedang tidak ada karena sedang mempersiapkan diri menunaikan ibadah haji. Penggantinya ibu Mis. Wanita bertubuh mungil ini sudah tiga tahun membantu menyiapkan makanan buat tamu. Ada sedikit kekecewaan tidak bisa bertemu dengan juru masak yang cukup kondang itu. Tapi setelah bicara dengan bu Mis, ada sedikit harapan. Caranya menggambarkan makanan begitu menggoda. Walaupun ia menggambarkannya dengan sederhana. But she talks like an expert. Makanan yang disediakan lebih banyak selera ekspat dengan campuran makanan lokal. Tiga kali makan, bu Mis menyediakan salad yang jauh lebih enak ketimbang kafe eksklusif di Jakarta. “The food is really good,” ungkap Rob, ekspat asal Inggris yang makan dengan lahap. Sambil menikmati matahari terbenam, bu Mis menyediakan pisang goreng yang lagi-lagi rasanya kok lebih enak. Ditambah potongan buah tropis dan segelas Sangria yang membuat otot-otot dalam tubuh mengendur dan rileks. “Di dalamnya ada red wine dan white wine serta beberapa campuran alkohol lainnya. Ditambah buah-buahan. Rasanya enak kan?” tanya Mimi, staff yang menemani tamu selama berlibur di pulau Macan. Malam Minggu, bu Mis menyediakan nasi kuning, salad dengan saus vinegar dan blue cheese, sate ayam, ikan bakar, tumis kangkung, abon dan abon. Apa pun warna kulit Anda, 5 orang Eropa, satu orang Jepang dan 7 orang Indonesia yang malam itu duduk berkumpul di dining table by the beach begitu menikmati makan malam dengan menu Eurosia (Europe-Asia). Akhirnya, hanya ada satu kata, bu Mis juara banget deh. There’s nothing better than a good food in the beautiful island with best friends around you.

Must Bring

- Sun Block SPF 50, Tanning Spray

- Aloe Vera Sooting Lotion

- Lip Gloss

- Tas water proof

- Goggle

- Topi

- Sun glasses

- Extra Bikini or Swimwear

- Flip flop

- Ipod and Speaker (with your favorite play lists in it)

How to get There

Call United Adventure di 021 7658010 atau 08180880 0008

Akomodasi : Rp. 800.000-Rp. 1.100.00/ orang (harga sudah termasuk makan dan minum selama di pulau, penggunaan fasilitas seperti perlengkapan snorkeling, kayak, kapal untuk snorkeling, dll)

Transportasi : Rp. 700.000 (dengan menggukan speed boat lengkap dengan AC) berangkat dari Marina, Ancol, Dermaga 6 jam 08.00

Monday, September 6, 2010

Jelajah Kuliner Bandung


Finally.....

Buku Jelajah Kuliner Bandung ini selesai juga. Malam panjang dan hari-hari melelahkan di Bandung dan kantor seperti terbayar dengan terbitnya buku ini. Kadar kolesterol yang meninggi dan berat badan yang bertambah seolah terlupakan saat buku selesai dicetak. Seperti perempuan yang baru saja melahirkan anak pertamanya, saya memandangi buku ini dengan perasaan campur aduk. Bahagia, bangga, senang, optimis dan perasaan-perasaan lain yang menyesakkan dada. Satu yang bisa saya bilang. Thank God.

Buku ini mungkin hanya setebal 212 halaman, tapi saya dan teman-teman menghabiskan waktu lebih dari duia bulan untuk menyelesaikannya. Mulai dari persiapan sampai editan terakhir. Buku ini masih belum sempurna, tapi saya merasa apa yang dihasilkan sudah sangat maksimal. Paling tidak, orang yang akan berjalan-jalan ke Bandung dan menikmati wisata kuliner di kota kelahiran saya ini tidak perlu lagi bingung mencari di mana lokasi yang akan dituju. Mereka pun tidak perlu bertanya-tanya lagi mau makan di mana dan apa yang enak. Karena semua kategori sudah ada di situ.

Sebagai orang Bandung, semua tempat yang ada di sini merupakan tempat-tempat yang sudah saya kenal sejak saya masih kecil. Beberapa tempat merupakan resto favorit keluarga. Lokasi kami makan setiap kali pulang gereja. Tempat yang menyimpan memori yang indah. Ada juga tempat kencan dan tempat bikin kehebohan bersama teman-teman SMA dan kuliah. Eniwei, semua tempat yang ada di buku ini merupakan tempat yang direkomendasikan, kalau nggak, ngapain dimasukkan bukan? Meskipuin begitu, saya punya tempat favorit sendiri. Here are some of my favorite place

1. Kedai Kopi Purnama
Jl. Alketeri
Tempat paling enak buat ngopi. Nuansa jadulnya kerasa banget. Beda dengan kedai kopi yang sophisticated. Di sini menu mengingatkan pada masa lampau. Menu makannya juga jadul dan super enak. The coffee is perfect. Just come and feel the old taste of Bandung

2. Mih Kocok Abun
Tempatnya di depan kedai kopi Purnama. For me, I guess this is the BEST Mih Kocok in Bandung. Kuahnya nggak berlemak. Taugenya besar dan mantap. Potongan kikilnya empuk dan gurih. Just freaking delicious

3. RM. Linggarjati
Jl. Balong Gede No.1
Saya nyebutnya mie bakso balong gede karena lokasinya di jalan Balong Gede. Mie Yamien komplitnya nggak pernah gagal membuat saya terpesona. Es alpukatnya sampai sekarang masih yang terbaik. The best best best best ever.

4. Kedai Teko
Jl. Neglasari No. 4, Ciumbuleuit
Teh Chai-nya sampai sekarang mampu membuat hari yang gloomy jadi terasa lebih ceria. Lokasinya asyik buat nongkrong bareng your bestiest. Kesannya hangat dan nyaman. U won't feel intimidated in here. Love it

5. Kangkung Hot Place A Hong
Jl. Kebon Kawung
Almarhum papa sering banget ngajak kami makan di sini sepulang gereja. Satu menu bisa untuk di makan bareng-bareng. Biasanya kami pesan Nasi Goreng Babi dan Kangkung Cah Sapi. Untuk empat orang masih bisa dibawa pulang. Tempatnya sih kusam dan nggak mentereng. Tapi soal rasa, resto Chinese Food franchise dari Singapore sih masih kalah. Makanan di sini nggak oily seperti umumnya makanan Chinese. That's why I love it

6. Iga Bakar Si Jangkung
Jl. Cipaganti
Kehabisan kata-kata deh kalau ngomongin tempat makan yang satu ini. Enak banget deh. Harumnya aja udah bikin teler. Love love love it

7. Nasi Kalong
Jl. Riau
NHasi Hitam, oseng buncis dan ayam madu plus sambal. Cukup deh membuat gw tersenyum bahagia.

8. Bebek Goreng Syailendra
Samping RS. Boromeus
Kedai bebek goreng kaki lima ini definately the best lah soal bebek goreng. Harga bersahabat, rasa mantap

9. Bubur Akiong
GOR Padjajaran
Saya sering bilang kalau bubur akiong bukan bubur ayam tapi ayam dikasih bubur. Untuk harga yang dipatok, suwiran ayamnya besar-besar dan banyak. Mantap deh. enak buat sarapan di hari weekend, sambil nyoba makanan lain di kawasan GOR ini.

10. Roti Duti
Jl. Gardujati
Sandwich a la Bandung. Daging asap, bacon dan keju. Perpaduan yang pas untuk memanjakan perut.

11. RM. Bintangf
Jl. Kelenteng
Pemilik rumah makan ini tampangnya jutek, tapi nasi c ampurnya enak. Bolehlah bersaing dengan nasi campur Kenanga yang di Wijaya Center.

12. Nasi Timbel Dago
Jl. Ir. H. Juanda, samping FO Uptown
Nasi Timbelnya wangi dan ada rasanya. Ayam gorengnya gurih dan mampu membuat siapa pun pengen nambah. Seriously, makan di sini enak banget. Harganya juga ok. Nggak mahal banget

13. Bakmi Jowo DU 64
Jl. Dipati Ukur no. 64
Nuansanya Jawa Banget. pelayannya aja pake batik dan blangkon. Mereka juga diimport langsung dari Gunung Kidul, lokasi dari asalnya menu ini. Bahan bangunan, tempat masak dan kokinya juga asli Gunung Kidul. Jadi nggak heran kalau rasanya Jawa banget. Ditambah lagu-lagu Jawa yang bikin makin Njawani. Mie nyemeknya mantap. Apalagi disandingi dengan Teh Nasgitel alias Teh panas manis kentel.

14. Aji Anom
Jl. Panatayuda no.11
I disocover this place by incident. Hahaha. Kelaperan tengah malam dan nyangsang di jalan Panatayuda. Ngeliat warung yang masih buka, saya masuk dan pesan ayam betutu tanpa mengharapkan menemukan harta karun. Ternyata warung sempit di area yang remang-remang nyaris gelap ini ada menu yang bikin mata melotot keenakan. Sumpah, u have to try ayam betutu dan iga kambingnya. sumpah enak. nggak boong.

15. Sate Ayam Maulana Yusuf
Jl. Maulana Yusuf
Potongan dagingnya besar dan tidak berlemak. Harganya sedikit mahal sih tapi worthed kok. Bumbunya dipisah. Paling enak dicocol pake kerupuk. Ohhhhhh...nyam nyam nyam.
Jadi laper nih nulis beginian

16. Pempek Rama
Jl. Rama
Ini pempek terenak di Bandung raya. Awalnya cuma garasi yang biasa aja. Sekarang berkembang pesat jadi toko pempek yang cukup keren. Pempeknya gurih. rasa ikannya kerasa. Kuahnya Palembang banget. Dalam artian sama strongnya dengan yang ada di palembang sana. Ada tekwan home made yang bikin ngiler selalu and above all, ada es kacang merah. Sumpah loe ya,. es kacangnya enak banget. empuk dan manisnya pas. The best lah. Must try.

Eniwei, itu sebagian dari tempat makan favorit saya yang masuk dalam edisi jelajah kuliner di sini. Sebenernya masih ada beberapa tempat lainnya cuma perut saya udah keroncongan gara2 nulis ini.