Tuesday, January 17, 2012

Delicious Healthy Food

Diet adalah satu kata yang tidak bisa sama terima dalam logika dan tidak bisa saya terapkan dalam kehidupan saya sehari-hari, because I love food.
Saya begitu mencintai makanan dan rugi rasanya kalau terpaksa harus menahan menikmati makanan yang enak. Jadi buat saya, diet menjadi tidak rasional dan tidak wajar untuk dilakukan. Sampai, satu hari saya membaca laporan kesehatan yang isinya mengerikan. Meskipun saya punya alasan mengapa laporan kesehatan saya seperti rapor yang kebakaran, tapi saya tidak bisa tutup mata melihat wajah ibu saya yang merana dan seperti mau menangis jejeritan. Ok, saya mengerti. Dia tidak mau saya mati muda karena gaya hidup slebor (kerja seperti kuli, kurang tidur, makan kacau). Saya pun mengalah. Saya datang ke dokter dan mau tidak mau, saya mendengar kata itu lagi. Diet. Kata yang bertentangan dengan hati nurani dan harkat serta martabat saya sebagai seorang foodlover. Apa boleh buat, saya tidak ingin menyakiti hati nyokap dan saya juga tidak mau mati muda gara-gara hidup saya yang slebor, TAPIIIIII saya juga tidak mau makan makanan yang tidak bisa saya telan. Ok, saya akan DIET, tapi makanan yang saya makan tetap harus enak di lidah. So, makanan diet buat saya syarat utamanya harus enak dulu. Karena kalau makanan itu tidak enak, bagaimana saya bisa melanjutkan diet sampai tubuh saya normal?? Saya khawatir, baru 3 hari saya sudah menyerah karena rasa makanannya sama sekali tidak eatable. Terserah orang mau bicara apa mengenai prinsip saya ini, tapi nggak ada orang yang mengenal tubuh saya sebaik saya. So, I know what I need and I know what I want and I know what I can do or can't do.

Dan, hari pertama diet pun dimulai. Rasanya seperti apa????? Mau Matiiiiiiiiiiiiii rasanya. Benar-benar mau mati. Bagaimana tidak? Pagi-pagi, saya tidak bisa sarapan menu yang biasanya. Menu saya benar-benar berubah. Pagi-pagi, bangun tidur saya minum air putih dengan perasan lemon dan sarapan buah. Sehat kan? Betul. Sehat. Tapi perut saya tidak henti berbunyi sepanjang hari dan air liur saya tidak berhenti mengalir, apalagi melihat Ichal jajan gorengan. Oh Goddddddddddddddddddddddddd. It's so unfair. But, I made up my mind. Harus tahan.

Hari pertama berhasil saya lewati dengan sukses. Walaupun, ya rasanya kayak mau mati itu tadi. Akhirnya supaya tidak terlalu merana, saya membuat menu yang menurut saya sehat tapi enak di lidah. Dan inilah beberapa menu favorit saya :

Wheat Bagel isi Tahu Jamur
Bahan :
- 1 bagel, dipotong 2
- 1/2 potong tahu China (diulek)
- 1 ons jamur kancing, potong-potong kecil
- 2 buah cabai rawit, iris tipis
- 1 putih telur
- selada
- 1 sdm olive oil
- garam
- black pepper

Cara Membuat :
- ulek setengah potong tahu China sampai lembut, tambahkan garam, blackpepper, cabai rawit dan putih telur. Aduk hingga merata.
- Panaskan olive oil dan bentuk adonan tahu bulat seperti burger. masak sampai matang. Angkat dan turiskan.
- Lapisi bagel dengan daun selada dan letakkan tahu yang sudah matang ditengah-tengah.
Dan siap deh dimakan

Jujur menu iseng-iseng ini rasanya enak dan karena saya suka, maka saya share lah menu ini buat semua orang yang sama seperti saya. Mau sehat tapi tetep makan enak.

Saturday, January 14, 2012

Demi Sepotong Red Velvet Cake di Union






"Loe udah pernah ke Union belum cong?" tanya teman suatu hari lewat BBM.
"Belum cuy. Belum ada kesempatan kesana. TApi udah denger sih kehebohannya!"
Saya sudah mendengar tentang tempat ini sudah beberapa bulan yang lalu. Tapi lagi-lagi urusan pekerjaan yang membuat saya belum sempat menginjakkan kaki ke tempat itu dan mencoba makanan yang ada di sana. Beberapa kali saya mau mengajak klien meeting di sana tapi selalu terhalang dengan alasan fully booked. Dan karena ini urusan pekerjaan dan klien, saya tidak mau ambil resiko tidak dapat tempat. Jadi saya memang belum kesampaian mampir ke tempat ini.
Jujur, saya sangat penasaran dengan tempat yang lagi hip ini. Bayangkan, walk in customer tidak bisa langung masuk dan harus menunggu beberapa jam. Saya tidak percaya, sampai akhirnya neng Uchi ngoceh panjang lebar soal itu. Sudah menunggu tiga jam pun masih belum dapat tempat. Saking tidak sabarnya, Uchi memilih pergi dari situ. Kalau saya jadi Uchi, saya pun akan melakukan hal yang sama. Tapi saya ingin tahu, apa yang membuat orang rela menunggu begitu lama untuk masuk ke tempat ini. Is it the food? or the atmosphere? or just another marketing trick from the management.
Akhirnya, saya memutuskan untuk datang kembali ke Union. Kali ini untuk makan malam bersama nyokap dan Tari plus sang pembantu. Pagi-pagi saya menelpon ke Union dan mendapat jawaban yang sudah saya bayangkan sebelumnya. Resto fully booked dan saya hanya bisa masuk ke daftar waiting list. Oh, I don't mind about it. Toh kalau harus sampai menunggu lama, masih banyak restoran di Plaza Senayan yang bisa saya datangi.
Begitu sampai di Union, saya harus menunggu sampai dipersilahkan duduk oleh waitress yang tidak ramah dan sedikit jutek. Saya beruntung karena tidak harus menunggu lama. Dalam waktu 15 menit si waitress jutek itu mempersilahkan saya duduk. Saya dan nyokap duduk selama 15 menit sampai seorang waitress meletakkan tatakan meja dan alat-alat makan. Kami harus menunggu 10 menit lagi sampai pelayan yang sama datang membawakan buku menu. Sambil menunggu, saya menikmati suasana di Union. Karena saya datang pada saat makan malam, lampu yang temaram dengan nuansa New York terasa sangat cozy tapi satu sisi saya seperti teringat dengan Loewy yang masih berada di satu management dengan Union. Ada kesamaan yang nyata sekali. Yang unik dari Union justru taman yang berada di belakang yang unik dengan pohon yang dihiasi lampian yang berpindar terang di malam hari. Memberi kesan hangat dan nyaman.
Giliran pesan makan, kepala saya mulai berputar. Pesan apa ya? Akhirnya saya memesan Caesar Salad, Grilled Pork Ribs, Spagetti Aglio Olio, Spagetti Carbonara dan Meatball with meled Cheese. OK, Sebelum kalian menyebut saya rakus, itu adalah pesanan untuk 4 orang. Jadi masih bisa dikategorikan wajar. Untuk Caesar Saladnya saya bilang enak. Walaupun tidak spektakuler. Begitu juga dengan Grilled Pork Ribsnya. Bumbunya meresap dan matangnya pas. Tapi ya, itu aja. Kalau dibandingkan ama Nuri's mah ya jauh lah. Intinya biasa ajah. Menu lainnya juga B banget. Sumpah B ajah. Kami makan tanpa antusias dan membayangkan betapa nikmatnya menu yang kami makan ini kalau dipesan dari restoran Italia yang ada di mega Kuningan.
I'm not happy with Union. Makanannya biasa dan pelayanannya jelek banget. Beberapa kali pelayan datang membawa menu yang tidak kami pesan. Membuat saya berpikir, apa tidak ada sistem yang benar sampai pesanan bisa kacau balau? I know the place is pack with people, but still, it's not an excuse yahhh. Malam itu, setelah foto-foto di taman belakang, kami pulang, dengan perasaan yang tidak terlalu bahagia. Makanan yang dipesan tidak memuaskan dan saya gagal mencoba Red Velvet Cake yang begitu menghebohkan. "Kami hanya membuat seratus potong per hari,"kata salah seorang pelayan.

Well, karena malam itu tidak berhgasil memesan Red Velvet, saya kembali lagi ke Union. Kali ini tujuannya hanya satu. Mencoba Red Velvetnya. Kali ini nggak ada yang nemenin dan cuma bisa duduk sendiri di Minggu siang yang mendung sambil memandang red velvet cake yang berada di depan mata. Mengundang liur. Satu yang menarik, red velvet cake ini ditaburi potongan kacang pistachio. Rasanya memang enak dan one of the best. I agree with some people who adore the red velvet cake in this place. Kalau saya harus mengantre demi sepotong Red Velvet Cake yang dibandrol dengan harga 50 ribu rupiah ini rasanya saya tidak keberatan. Tapi kalau harus antre demi menu lainnya, saya akan bilang, No Way.
So bisa dibilang, Union is save by the Red Velvet Cake.

Thursday, January 12, 2012

Nongkrong di Jazz Cafe di Bali Lane, Singapore




Dipenghujung 2010, saya dan Miss Xanaxwati berencana merayakan ulang tahun tante linong di Singapura. Kebetulan Air Asia mengeluarkan tiket murah. Tiket sudah ditangan dan itinerary yang terdiri dari nongkrong, dugem dan shopping tiada henti sudah dipersiapkan.

Menjelang hari keberangkatan, yang berulang tahun harus kembali ke Papua tempatnya bekerja dan rencana awal gatot alias gagal total. Tapi saya dan Miss Xanaxwati memutuskan kami pantang mati gaya. Itinerary berubah total, dan mendadak banyak titipan, termasuk bertemu dengan salah seorang kontributor majalah tempat sahabat saya bekerja. Kami si kontributor bekerja di Singapura,pertemuan dijadwalkan sore hari, kurang lebih jam setengah enam sore. “Saya tunggu di Blue Jazz ya,” tulis si kontributor itu. Sahabat saya menoleh dengan
bingung kearah saya. “Blue Jazz di mana sih?” tanyanya dengan kening berkerut.
Saya buru-buru menggelengkan kepala. Kalau tanya hawker center, saya pasti bisa
menjawab. Tapi kalau cafe, saya langsung angkat tangan. Hanya beberapa kafe di
Singapura yang saya tahu benar. Kami sibuk mencari sampai akhirnya si
kontributor kasian dan kami bertemu di tempat lain dan setelah ditraktir makan
malam kami pulang dan melewati Blue Jazz kafe. Begitu saya melihat tempatnya,
saya langsung pengen mampir. Tapi sudah jam 10 malam. Akhirnya saya memutuskan
besok malam, sebelum pulang ke Jakarta, saya mau ke sini dulu.
Eh, ternyata boro-boro mampir, yang ada kami tergopoh-gopoh ke bandara karena takut
terlambat. Akibat belanja yang tiada terkontrol, koper beranak pinak dan kami
harus mengatur agar tidak kelebihan bagasi. Mimpi saya untuk bisa nongkrong dan
cuci mata di Blue Jazz langsung pupus. Empat bulan kemudian saya baru bisa
mampir ke tempat ini. Kali ini saya sudah siap. Dandan yang manis. Pakai parfum
yang top abis dan sepatu yang membuat semua mata menoleh. Tampil gorjes wajib
hukumnya. Secara kafe ini tempat ngumpulnya ekspatriat dan eksekutif muda yang
menikmati beer atau wine seusaingantor.
Yah, namanya juga jomblo gembira toh. Harus usaha. Siapa tahu bertemu oranng yang sudah meminjamkan rusuknya padaku. Jiahhhhhhhhhh. Seriously, selain enak buat dijadiin tempat perngecengan (kata-kata ini terlalu jadul nggak ya?) suasananya juga enak. Tamu biasanya memenuhi bagian luar kafe sambil menikmati angin sepoi-sepoi. Suasana yang nyaman inilah yang membuat saya kembali lagi ke kafe ini. Semata-mata untuk menikmati suasana. Bukan karena makanannya.
Saya lebih suka duduk sambil menyesap segelas cocktail dengan ditemani calamari atau chicken wings. Tempatnya sudah terlalu nyaman. Begitu juga dengan crowd-nya.Karena saya yakin, sebagian besar orang yang datang kemari karena ingin menikmati suasana.

Blu Jazz
11 Bali Lane, Arab Street
Jam Operasional
: 13.00-24.00
Harga : 5-30 SGD

Es Krim Jadul Super Yummy @Saigon


Who can resist a cup of sweet ice cream? Jawabannya NoOne lah. Mana ada yang mau nolak es krim, apalagi yang disajikan di KemBach Dang, salah satu kedai es krim paling tua dan popular di Ho Chi Minh City.Rasanya nggak kalah dengan es krim di restoran Perancis. Ada puluhan rasa yangtersedia. Mulai rasa standar seperti vanilla, stroberi, coklat, kopi, duriansampai rasa talas. Pengunjung bebas memesan per cup atau bisa juga memilih menu yang disediakan. Bentuknya cantik dan bisa dilihat di daftar menu. Sudah ada foto yang memajang menu yangdisebutkan. Kita bisa memilih tiga rasa es krim. Rasa durian dan talas jadifavorit kami. Serat buah durian terasa saat menyendok es krim. Benar-benarterbuat dari sari buah durian, bukan sekedar essence. Begitu juga dengan rasaes krim talas. Manis dan gurih. Perpaduan yang bikin kangen. Enaknya lagi, jika memilih menu khusus, biasanya ada tambahan buah-buahan.


Seperti saat saya mencoba Kem Trai Dua, yang disajikan dengan buah kelapa utuh. Ada tambahan buah naga, stroberi, selai nanas dan semangka. Jadi benar-benar segar. Selain es
krim, ada juga pie dengan isi daging babi. Kulit pienya garing dan renyah.
Isiannya juga gurih. Lumayan jadi pengganjal perut kalau mendadak lapar
datang.
Paling enak datang ke sini sore hari. Sambil nongkrong dan cuci mata. Walaupun banyak yang datang dengan pasangan, ada beberapa juga yang datang sendiri tanpa pasangan atau datang
dengan teman-teman. Sasaran empuk buat yang hobi makan es krim sambil cari
jodoh. Efektif kan? Sambil menyelam minum air. Ide yang sangat cemerlang bukan?

KemBach Dang
26-28
Le Loi Street, Distrik 1
T: +84835292707
Jam Operasional : 10.00-22.00
Harga: 20.000-50.000 VND
CreditCard : Available
Food: Ice Cream
Service: A Bit Slow but still nice
Atmosphere: AC and café style

Thursday, December 29, 2011

Steamboat for Soul and Chicken Wings To DIE For

Untuk kedua kalinya, the mentally challenged family goes to Singapok. Kali ini tujuannya nonton Wicked. Dari Jakarta seperti biasanya, mamah teteh bede udah bikin itinerary. Apalagi yang ada hubungannya dengan makan. "Pokoknya kita harus makan cockle (kerang dara) di Newton. Harus dan wajib. Abis itu kita makan Steamboat di deket ABC," titah mamah teteh dengan tegas. Kalau urusan cockle dan Newton, gw mengaku pasrah. Ngikut aja deh daripada benjul. Bener-bener udah nggak ada pilihan lain. Secara Newton gt lho. Makanannya lebih mahal dari foodcourt lain di Singapok dan makanannya biasa ajah. Tapi mamah teteh bede tetep bilang "this is the best cockle in town. Sambalnya itu lho. Enak banget!"

Ya udah sih...daripada kualat sama orang tua, urusan cockle dan Newton, gw ngikut ajah. Tapi untuk itinerary kedua, yaitu Steamboat di deket ABC, gw penasaran banget dan pengen banget membuktikan kelezatannya. Trip pertama cuma mamah teteh bede dan tangte linong plus dia yang namanya tak boleh disebut yang makan di sana. Dan mamah teteh bede plus tangte linong nggak berenti ngoceh soal kelezatan steamboat dan chicken wingsnya. Gw sempet nyicipin chicken wings sisa yang mereka bawa. Walaupun udah dingin dan lepek seperti rambut abis pake helem seharian, tapi rasanya enak. Kebayang kan kalau masih fresh. Pasti yummy banget tuh.

Pulang nonton Wicked, kami meluncurlah kesana. Dengan mamah teteh bede sebagai penunjuk jalan. Jujur...Jujur ini lhoooo. Gw nggak yakin dengan sense of direction mamah teteh bede yang kacau. Bener ajah. Janjian di Masjid Sultan aja doi udah keliatan keder. Dari depan masjid Sultan kami jalan ke arah perematan jalan Sultan. Menjauh dari Arab Street. Dalam keadaan sangat lapar sekali sungguh, perjalanan itu terasa berat. Apalagi ditambah dengan kepanikan Mamah teteh bede yang nggak yakin restorannya buka. "Kalau tutup gimana yah?". Langsung dong muka-muka lapar bin gahar tampak. Untungnya sampai di sana, restoran itu buka dan kami memilih bangku yang berada di pinggir jalan. Lima orang kelaparan memang sangat mengerikan kalau disuruh mesen makanan.

Urusan pesan memesan, lagi-lagi mamah teteh bede yang ambil alih (secara dia ngerasa udah pakar, soalnya dah pernah makan di situ sebelumnya). Pilihan jatuh ke steamboat, chicken wings dan tambahan kangkung balacan, oyster omellete khusus buat mbak xanaxwati dan bihun goreng pesanan neng diniwati yang sudah mau pengsan kelaparan karena seharian belum makan plus 5 nasi.

Begitu menu keluar, langsung penuhlah meja kami, sampai-sampai pelayannya pun kebingungan mau ditaro di mana kah makanan2 itu? Saking meja sudah penuh sesak dan kami sibuk makan karena sudah mau mati kelaparan. Lima perempuan dengan meja penuh makanan di pinggir jalan pasti dong menarik perhatian orang. Setiap orang yang lewat di trotoar pasti ngeliat kearah meja kami dan mengernyit. Bisa dibayangkan apa yang ada di kepalanya. "Busyet nih perempuan2 makannya banyak amat yahhh!'. Jangan sedih, saking enaknya si chicken wings itu, gw sampai nambah. Huahahahahahahahaha.

Steamboatnya seperti yang digadang2 oleh mamah teteh bede dan tangte linong, rasanya memang enak. Plus seger banget buat orang yang sudah keringet dingin kelaparan. Kuncinya ada di ikan yang segar. Dan kuahnya yang segar dengan bumbu bawang putih. Plus sayuran sawi dan potongan ikan asin yang digoreng kering sebagai pemanis. Makin enak dan segar dengan potongan cabai merah dan kecap asin. Mantap mannnnnn. Makannya nggak perlu pake nasi. Langsung ajah diseruput. Lebih mantap. Gw habis dua mangkuk. Sementara yang lain ada yang dua dan tiga.

Chicken wingsnya jelas enak banget. Kering tapi juicy dan sambalnya juga enak. Mereka bikin sendiri sambel cocolannya. Mirip kayak sambal Thailand. Ada manis, asem dan pedas. Pas deh. Nggak salah dong kalau gw menghabiskan paling tidak 8-10 potong chicken wings. Busted!!!!!

Menu yang lainnya sih biasa ajah. Kangkung balacannya so so ajah. Bihunnya juga so so ajah. Tapi steamboat dan chicken wingsnya, JUARAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
Percayalah, percayalahhhhhhh

Wednesday, December 28, 2011

My Sweet Corner

saking penasaran nyoba jadi lupa musti foto cupcakesnya, untung masih ada sisanya


Belakangan ini, saya punya tempat nongkrong baru yang menyenangkan. Lokasinya nggak jauh dari rumah dan tempatnya mungil dan menyenangkan. Nggak crowded dan nggak penuh asep rokok. Tempat ini saya temukan pada saat saya resmi jadi pengangguran setelah menunaikan masa bakti yang cukup cemerlang di kantor lama.

Siang yang cukup panas dan terik itu saya mampir ke Snappy untuk mengirimkan beberapa file penting. Pulangnya, saya bingung celingukan karena tukang ojek yang saya minta tunggu sudah menghilang. Dua kali nyetop bajaj, dua kali juga pengen ngelepas sepatu trus teriak...situh okehhh. masak dari Snappy ke rumah yang jaraknya nggak lebih dari 3 kilo, si bajaj minta 15 ribu?? Helohhhhhhh, plis deh.

Sambil menahan gondok yang merajalela, gw memutuskan untuk jalan kaki aja. Ngirit sekaligus olahraga. Well, niat awalnya sih begitu. Baru beberapa meter jalan, saya melihat tempat ini dan niat untuk ngirit dan olahraga langsung hilang melihat tumpukan cupcakes berwarna merah. Saya memutuskan untuk mampir dan menunggu sampai matahari tidak terlalu menyengat lagi. Alasan klasik dan pembenaran.

Begitu masuk, hidung rasanya dibuat mengembang dengan aroma cake yang sedang dipanggang. Saya merasa seperti masuk ke dapur mama beberapa tahun lalu. Saat beliau masih rajin masak. Bau dapurnya sama seperti ini. Menggoda iman...

Cafe ini ukurannya sangat mungil. Terlalu mungil kalau boleh jujur. Kalau saya dan TTA aka Tung Tung Agashi alias The big Mommas gank berkumpul di sini, kami berempat pasti sudah bisa membuat ruangan jadi penuh sesak dan ramai. Untung hari itu saya sendirian. Saya bisa memilih duduk di sofa ujung sambil memeluk bantal dan mantengin channel AFC. Pas banget nggak sih?

Menu yang disediakan nggak banyak. Tapi karena belum makan siang, saya memilih Beef Focchacia untuk mengganjal perut. Jujur, menu yang ini tidak membuat saya bahagia. Breadnya terlalu kering dan rasanya biasa banget. Untuk harga yang lebih mahal dari Daily Bread, jelas ok. Percobaan pertama dan terakhir buat saya. Nggak rekomen sama sekali.

Biasanya kalau gagal di menu pertama, saya langsung kehilangan gairah, tapi entah kenapa, saya justru tertarik dengan red velvet cupcakes dengan olesan cheese cream-nya. Ternyata, pilihan saya nggak salah. Cupcakesnya lembut dan rasanya pas. Cream cheese-nya bikin rasa cupcakes ini jadi makin mantap. I love it. So far, cupcakesnya juara banget. Sebenernya, perut saya sudah mulai penuh. Tapi sang pemililik sedang membuat bread pudding. Harum cinnamon-nya membuat liur saya mengalir. I can't control it. Sorry, forget about diet. Forget about calorie, I just want to have that bread pudding.


Red Velvet Cake yang yummy

Dan saya pun menyerah kalah. Memesan bread pudding itu dan melahapnya sampai suapan terakhir. Saya suka karena bread puddingnya kental banget dengan rasa cinnamon dan tidak terlalu manis. Kekecewaan saya akibat rasa Beef Foccacia yang B ajah (sebenernya cenderung nggak enak sih, maaph) terobati dengan red velvet cupcakes dan bread pudding yang mantapssss.

Sejak hari itu, saya rajin mampir ke kafe mungil bernama Souly Butter ini dan mencoba berbagai jenis sweet cakes yang ada. Yes, just pick the cakes. Salah satu yang jadi favorit saya adalah Red Velvet Cake. Boleh diadu deh rasanya dengan Red Velvet Cake di Union dan Convivium. This place is truly my sweet corner. Kalau bete, kesel, butuh yang manis-manis, this is the place that i will visit. Just around the corner and an ojeg away..

Soully Butter
Jl. Kemang Raya No. 15
T : 021 7199985
Buka : 10.00-21.00
Harga : Cupcakes (Rp. 22.000), Red Velvet Cakes (Rp. 45.000)

Monday, November 14, 2011

Mabok Spa

Pemandangan indah di Kirana Spa

I love Spa. I love pampering myself. I love when someone massage me from head to toe. I often feel asleep during massage and spa. It means, I'm comfortable and they push my off button perfectly. Jadi begitu ada liputan spa, saya langsung bilang sama boss, let me handle it. Dan berangkatlah saya bersama Opa dan Iting buat meliput Spa. Nggak cuma spa sih sebenernya. Tapi juga makanan dan hotel eksklusif di Bali. Tapi yang mau cerita soal Spa.

Dengan wajah berseri-seri kami berangkat ke Bali. Sudah terbayang di depan mata nikmatnya Spa di Bali. It's like heaven there. Pijat di tempat yang murah meriah aja udah bikin saya pingsan, apalagi pijat di tempat yang muahal dan keren. Hari pertama tidak ada jadwal Spa. Kami makan dan makan dan makan dan membuat supir sewaan menyerah pasrah karena tidak sanggup mengikuti jadwal kami yang biadab (berangkat jam 9 pagi pulang jam 1 malam). OOT dikit yahhh, alhasil selama seminggu di Bali, kami tiga kali ganti supir. Back to topic, malam kedua, kami menginap di hotel yang harga kamarnya sekitar 1.200 USD per malam dan pagi hari langsung ada janji dengan salah satu tempat Spa terbaik di Bali. Kirana Spa. Tempatnya cantik dan manis. Karena waktu yang mepet, saya terpaksa menolak full body spa yang mereka tawarkan dan hanya melakukan back and hand spa yang sudah bikin mata saya merem melek. Sebenernya, setelah pijatan singkat itu badan saya langsung lemas dan tidak bertenaga. Seluruh otot dalam tubuh saya sepertinya berada dalam kondisi lemah. Saya seperti orang yang lagi high. Padahal ngegele juga nggak. Tapi sumpah badan saya lemah lunglai. Naik ke mobil pun susah. Begitu duduk, langsung mata saya maunya merem.

Kalau di zaman sekarang ini bidadari masih ada, mungkin mereka seperti inilah tempat pemandian mereka.This place is Kirana Spa and its just beautiful

Untungnya, setelah itu saya sampai ke Jamahal dan kali ini saya dapat full treatment. Full body massage. Kurang lebih dua jam saya dipijat dan saya langsung pingsan. Kalau tidak dibangunkan, mungkin saya baru melek besok pagi. Saya puas sekali dan langsung mandi air hangat dan melanjutkan perjalanan. Ternyata hari itu saya harus mencoba 3 kali spa di 3 tempat yang berbeda. Awalnya saya pikir saya adalah perempuan yang paling beruntung. Tapi saya salah. Spa 3 kali dalam waktu yang berdekatan nggak asyik sama sekali.

Badan saya menggigil. Antara kedinginan dan masuk angin. Bayangkan, baru saja saya membasuh tubuh dan terlentang setengah telanjang di atas kasur dan dipijat, membasuh diri lagi dan tidak berapa lama harus melakukan hal yang sama lagi. Pijatannya memang enak dan tempat yang saya datangi super duper kewren. Tapi jujur saya mabok gara2 kebanyakan Spa. Saya masuk angin dan badan saya ngreges seperti orang demam. Di tempat terakhir saya bahkan harus bertanya dengan wajah tolol. "Mbak, harus buka baju ya?" . Saya tahu, saat saya berkata seperti itu si pemijat pasti langsung berpikir saya perempuan udik dan katro. Tapi jujur, saya tidak sanggup lagi membuka baju dan naik ke atas kasur. Selesai Spa, wajah saya berantakan banget. Bener-bener seperti orang mabok ganja berat. Muka kusut dan mata saya nyaris tidak bisa dibuka. Muka ble'eh banget. Tapi jujur saat itu buat berdiri saja rasanya sulit. Alhasil, liputan terpaksa dihentikan lebih cepat karena saya sudah tidak kuat lagi. Saya mabok Spa. Saya hanya ingin pulang ke hotel dan merebahkan tubuh saya dan membiarkan tubuh dan otot2 saya beristirahat.


Salah satu ruangan di Dala Spa. Khusus buat couple


Di Prana Spa ini saya merasa seperti Choti Shehzaadi

Untungnya, beberapa bulan setelah itu, saya mengajak seorang teman kembali ke Bali dan menyambangi salah satu spa dan mencoba perawatan di sana,dan kali ini, saya datang sebagai tamu dan benar-benar menikmati spa dan kali ini nggak mabok lagi deh. Yang ada, saya tertidur pulas saat kembali ke hotal. Tanpa ngigau atau mimpi.

Jujur sih, terlepas dari masuk angin dan kedinginan akibat keseringan buka baju, pengalaman saya Spa di tempat-tempat itu tidak terlupakan. I feel like a princess. All the places are beautiful and mind blowing.