Wednesday, January 20, 2010

Me and Gnocchi


Gnocchi (dibaca : noh kee) dan gw pertama kali bertemu saat gw nonton Nigella Lawson masak makanan ini. Bentuknya lucu dan keliatannya enak banget waktu Nigella melahapnya bersama grilled pork. Sumpah, malam itu gw terngeces2 melihat menu itu. At that time, gw sama sekali nggak tau makanan kecil seperti kerang berwarna putih ini namanya apa. Tulisan sama penyebutannya beda banget soalnya (gaya orang udik ngeles, he3). Makanan dan nama ini akhirnya bisa gw kenal dengan baik setelah seorang teman asal Italia ngajak makan malam di Tratoria. Gw pesen seafood spagetti sementara dia pesan gnocchi. Bentuk gnocchi di Tratoria sedikit beda dengan yang biasa disajikan di resto atau kafe lainnya. Bentuknya panjang seperti macaroni tapi lebih besar. Begitu ngeliat gnocchi yang berbentuk unik itu gw penasaran dan dengan sedikit malu-malu (masalahnya bule nggak biasa ama orang celamitan dong!) gw tanya what is gnocchi dan gw diizinkan mencicipi. Gw jatuh cinta pada kecapan pertama. Gw suka rasanya. Apalagi dalam keadaan panas dengan krim keju yang mahteh. Siapa pun yang berlidah waras pasti akan suka. Malam itu gw sakau. Nagih tapi nggak tega kalau ngebuang spagetti yang ukurannya udah gede banget.

Setelah gajian, gw balik lagi ke Tratoria khusus untuk menikmati gnocci sambil ngeliatin Alessio. Hi3 (lumayan lah pemandangan daripada makan sambil bengong). Menggabungkan gnocchi dengan segelas red wine. Penasaran aja apa after tastenya jadi lebih baik kalau minumnya red wine dan bukan jus atau air mineral seperti yang biasa gw pesen. Ternyata makan gnocchi dengan red wine jauh lebih enak. Hari itu, gw merasa bahagia karena makan malamnya sukses.

Beberapa waktu kemudian, gw, ceu mar dan bot makan bareng di Canteen setelah nonton film bareng di Blitz, Pacific Place. Bot juga penyuka gnocchi ternyata dan di Canteen, gw menemukan bentuk gnocchi yang sama dengan yang gw liat di acara masak Nigella Lawson. Masih dengan krim keju. Biasanya ada dua saus yang bisa digunakan untuk menyajikan gnocci. Krim keju atau saus tomat. Setelah mencoba gnocchi dengan saus tomat, gw memutuskan krim keju pasangan yang paling tepat buat my darling gnocchi. Rasa gnocchi di Canteen lumayan enak. Krim kejunya nggak se mahteh Tratoria dan nggak ada almond kering yang jadi tambahan. Warnanya putih pucat gitu aja. Harga di Tratoria dan Canteen nggak beda deh. Sama-sama bikin keuangan kacau balau kalau keseringan makan di situ. Selain itu, lokasinya yang di mal bikin males (I don't know why, but I don't really like malls)

Untungnya gw menemukan tempat makan gnocchi yang lokasinya nggak jauh dari rumah, rasanya enak, harganya lumayanlah walaupun nggak bisa dibilang murah. Secara makanan impor gitu ya bhoo. Kafe Loca yang ada di jalan Benda ini tempat gw makan gnocchi sambil dengerin musik Bonita and the Hush Band aka Bonita ama lakinya.

Tapi kalau duit lagi seret banget, gw milih bikin sendiri gnocchi itu. Percobaan pertama gagal total. Percobaan kedua mulai bagus. Sekarang, gw sudah bisa membuat gnocchi sama enaknya dengan yang dijual di tempat favorit gw. Kalau sakau datang dan gw males bikin sendiri, gw milih manggil bajaj dan jalan ke loca untuk sepiring gnocchi, segelas ice capuccino dan tiramisu.

Thursday, December 17, 2009

Uneducated People

Sebagian besar masyarakat kita tuh masih uneducated. Mungkin banyak yang nggak setuju dengan pernyataan ini. Tapi saya punya alasan kenapa, saya menyebut mereka uneducated. Bukan berarti mereka buta huruf atau nggak mengecap bangku pendidikan. Sebagian besar malah lulusan universitas, tapi kelakuannya tetap saja nggak sekolah. Ini salah satu contohnya :
Satu hari, ditengah antrean tiket dari Singapura ke Jakarta saya bertemu dengan segerombol perempuan yang kalau dilihat dari penampilannya sih orang berada dan pastinya kenyang sekolah. Saat penimbangan koper, bagasi kelompok ini kelebihan berat hampir 30 kilogram. Menurut peraturan maskapai penerbangan, mereka harus membayar kelebihan berat ini. Saya nggak ingat tepatnya berapa dollar Singapura yang mereka harus bayar. Saya hanya ingat saat salah satu dari perempuan ini menghubungi suaminya yang selidik punya selidik salah satu pilot di maskapai tersebut. Saya nggak ngerti, kenapa kok istri pilot ini bisa sebegitu bodoh dan kenapa juga sang suami membiarkan kebodohan istrinya terungkap di publik. Btw, kalau memang harus bayar extra ya bayar dong. Siapa suruh belanja nggak pakai aturan.

Sialnya kejadian seperti ini sering banget terjadi di depan muka gw. Terakhir waktu gw ke Vietnam. Ada seorang ibu yang gayanya sih istri pejabat masuk dengan barang banyak banget. Kebetulan dia naik air asia. Tahu dong, kapasitas bagasi perorang di maskapai ini. Ngeliat bawaan si tante yang pakai boot selutut di suhu udara mendekati 38-40 derajat Celcius, penampilannya sangat mencolok. Apalagi ditambah coat selutut. (Maaf kalau nyinyir, tapi kostum winter SANGAT TIDAK COCOK digunakan di negara tropis. Walaupun ruangannya ber AC tapi tetep aja gerah kan ngeliatnya) Waktu penimbangan, seperti sudah saya bayangkan extra baggage. Dari hasil nguping, gw nyaris ngakak waktu tahu si ibu harus bayar 200 dollar AS. Ya iyalah, lha wong seluruh isi pasar Behn Than kayaknya dia borong kok. Tapi karena si tante ini kayaknya ogah rugi, untuk mengurangi jumlah uang yang harus dibayar, dibongkarlah koper-koper itu supaya sebagian bisa masuk ke kabin. Gila kan. Udah gitu, di ruang tunggu dia masih sempat mengoceh di depan dua cowok asal Bandung. "Kalau di luar negri, saya biasanya nggak perlu bayar kalau kelebihan berat begini. Kok di sini harus bayar sih?"

Ngedenger omongan tante ini, pengen banget deh gw ikut nimbrung ngobrol sambil nanya, " Di mana itu tan? Penerbangan apa? Semua penerbangan pasti mengharuskan penumpangnya untuk membayar kelebihan berat. Kalau kelebihannya paling banyak 3 kilo sih biasanya lolos. Tapi kalau kelebihannya sampai 50 kg mana bisa merem? Satu anak bisa kebawa kali. Lagian si ibu itu terbang pakai air asia. Please deh. Kalau nggak mau bayar bagasi, paketin aja tuh barang. Kali aja bisa lebih murah. Btw, pesawat jet yang dinaiki penyanyi Aaliyah jatuh karena overloaded bagasi. Please concederate that you are not flying solo. Nyawa orang lain on the line gara-gara sikap tidak peduli Anda.

Kelakuan uneducated lain yang bikin gw meradang adalah menyalakan ponsel di pesawat. Halloooooooo, kalau mau bunuh diri jangan ngajak-ngajak dong! Daripada nyalain hp di pesawat, mendingan loe terjun bebas aja deh. Siapa sih elo sampai hp harus tetap nyala? Presiden? konglomerat? Gw pernah satu pesawat dengan salah seorang konglomerat. Ponselnya sudah mati saat masuk menuju pesawat. Artinya ponsel itu dimatikan di ruang boarding. Dia konglomerat dengan bisnis multi miliaran. Dia aja matiin hp, masak baru jadi manager atau direktur udah petantang petenteng nggak matiin hp. Jabatan loe nggak ada artinya kalau kelakuan masih norak kayak gitu.

Kalaupun sebagian besar mematikan hp saat pesawat mau take off (ini artinya pramugari sudah menegur berkali-kali agar Anda segera mematikan hp), baru aja pesawat landing, hp langsung dinyalain. Helooooooo, hp baru boleh dinyalakan di dalam bandara. Bukan di dalam pesawat. Lagian pesawat belum berhenti. Artinya semua peralatan dan komputer pesawat masih menyala. Artinya sinyal hp masih bisa merusak trasmisi dan menyebabkan kecelakaan. Gw pernah marahin orang gara-gara ini. Gw juga sempat miris ngeliat seorang wartawan melakukan hal itu. Wartawan kan seharusnya mendidik dan mengedukasi pola pikir masyarakat agar lebih cerdas, tapi kok bisa-bisanya melakukan hal sebodoh itu. Apalagi waktu gw intip yang dia buka fb dan pesan dari bbm. It can wait dear. Tapi kalau you mati gara-gara kecelakaan, your life ends. No more facebook, twitter or bbm groups.

Jadi, kalau Anda merasa orang Indonesia yang berpendidikan, jangan langgar hal-hal urgen di atas. Taati dong peraturan yang ada.

Citarasa Gunung Kidul di Gudeg Yu Nap

Gudeg Yu Nap ini diambil dari singkatan nama Zaenab, juru masak sekaligus rekan bisnis dan kerabat Jeffri, sang pemilik. Gudeg yang dimasak Yu Nap merupakan perpaduan gaya Jogja-Solo. Menu ini dipelajari Yu Nap dari neneknya saat masih berusia 19 tahun. Wanita asal Wonosari, Gunung Kidul ini tidak hanya menghadirkan gudeg sebagai menu andalan di restonya ini. Beberapa menu khas Jawa Tengah seperti buntil, mangut ikan pari, brongkos serta lontong opor. Di tempat ini saya menemukan buntil yang terbungkus daun talas. It's like discover a treasure. Yeah..nggak bermaksud lebay sih,, tapi wajah saya benar-benar berseri-seri binti sumringah melihat menu ini karena jarang sekali ada yang menjual butil dari daun talas. Biasanya, buntil yang dijual di pasaran lebih banyak menggunakan daung singkong atau papaya. Senyum bertambah lebar saat menikmati buntil yang menghadirkan sedikit rasa pedas ini.

Sebagai menu utama, gudeg racikan Yu Nap ini pantas diacungi jempol. Proses pembuatannya pun ternyata tidak mudah. Sebelum disajikan, gudeg dibacem selama 3-4 hari sehingga rasanya mantap. Jangan lupa meminta ayam areh yang gurih sebagai pelangkap dan sepotong peyek kacang yang bikin jatuh hati. Menikmati gudeg sambil mendengarkan langgam Jawa yang terdengar sayup-sayup memang mantap. Bronkos yang disajikan Yu Nap berbeda dari yang biasanya dijual di warung di Jawa Tengah. Di sini tidak menggunakan kacang tolo, kulit melinjo dan santan. Bentuknya sedikit mengingatkan pada rawon Jawa Timur.

Jl. Trunojoyo No. 38

T : 022 93242257

Buka : 07.00-19.00

Harga : Rp. 15.000-Rp. 25.000

Friday, November 6, 2009

Dikejar Paspampres


Malam terakhir di Hanoi, gw dan Mbak Bori memutuskan untuk jalan2. Salah satunya buat nyari Hanoi Opera House. Maka berjalanlah kami dari Old Quater ke arah Hoan Kiem. Sepanjang jalan di Hoan Kiem kami berdua cekikikan ngedenger bunyi sirene polisi dan paspampres. Kayaknya presiden emang lagi ada acara. Mobil pada minggir dan polisi stand by. Well, kami pikir sih sama gaya lebaynya dengan Indonesia kalau SBY mau lewat. Kami memutuskan melanjutkan perjalanan ke Hanoi Opera House. Setelah tanya kanan kiri sambil memegang peta Hanoi (this is the perfect example that woman can't read map), akhirnya kami masuk ke jalan Ngo Quyen Street. Jalannya besar, tapi yang nggak gw ngerti kenapa nggak ada mobil yang lalu lalang. Di depan Le Terrace Restaurant yang ada di samping Hotel Sofitel Metropole.

Dengan gaya model Usbek, berdirilah gw di tengah jalan sambil bergaya. Mbak Bori bertugas sebagai fotografer dan juga penata gaya. Setelah ceprat-cepret di tengah jalan secara bergantian, gaya kami pun makin menggila. Saking asiknya foto2 kami nggak ngedenger bunyi sirene. ternyata di ujung jalan, muncullah rombongan paspampres. Panik dunk kami berdua ngeliat pasukan paspampres itu. Apalagi beberapa polisi bermotor mengacungkan tangan ke arah kami (secara cuma kami berdualah manusia yang membuat heboh di tengah jalan). Kami berdua ngebayangin betapa menggelikannya kalau kami sampai harus dipenjara di Hanoi. Apalagi nggak ada satu pun dari kami yang bawa passport (secara passport kami ditahan oleh pihak hotel). Beberapa pelayan restoran melambaikan tangan ke arah kami. Mungkin mereka menyuruh kami minggir. Suara sirene makin kencang dan kendaraan paspampres makin dekat dan suara para pelayan di le terrace makin membuat kami panik. Lalu kami pun lari tunggang langgang. Menghindar dari kejaran paspampres. Satu-satunya tempat aman ya masuk ke dalam hotel. kami masuk dengan nafas terengah2 sambil menunggu rombongan paspampres lewat. Kurang lebih 10 menit, iring2an paspampres sudah nggak kedengeran. Begitu kami keluar, kami ketemu dengan pelayan le terrace yang langsung ketawa begitu ngeliat kami yang masih parno sambil celingukan. Rada tengsin juga ngeliat mereka ngetawain dua turis yang dikejar2 paspampres. Tapi pengalaman itu tidak membuat kami berhenti foto2. Begitu ngeliat spot yang keren, kami langsung pose lagi. Kalau paspampres itu lewat lagi, kami berencana masuk ke toko LV dan membuat kericuhan. Siapa tahu kami bisa menggaet satu tas LV. hahahaha. Ngarep banget.

Well, this is the pics outside Sofitel Metropole Hotel and Le terrace Restaurant. Sebelum dikejar-kejar paspampres tentunya.

Thursday, November 5, 2009

Resto Bobby Chinn-Hanoi






Siapa sih yang nggak kenal dengan Bobby Chinn, chef blasteran saingan Anthony Bourdain di Asian Food Channel. Jalan ke mana aja udah pernah. Nyobain makanan apa aja juga udah pernah. Mulai dari makanan wajar sampai makanan kurang ajar kayaknya pernah ditelen sama chef berbuntut kuda ini. So, pas ada kesempatan jalan ke Hanoi, gw nggak melewatkan kesempatan buat dateng ke resto Bobby Chinn. Sambil berharap siapa tau dia ada dan bisa foto bareng. (Susah memang kalau banci narsis. Bawaannya mau foto mulu).

Dulu, Resto Bobby Chinn lokasinya ada di tengah kota dengan bangunan warna putih yang kesannya retro abis. Keren pokoknya. Tapi karena si punya gedung menaikkan harga sewa, pindahlah Bobby dan restorannya ke 77 Xuan Dieu Street di Tay Ho District. Lokasinya sedikit minggir dari kota. Jalan yang sama menuju ke arah bandara. Maka berangkatlah kami dari daerah Nha Tho, di daerah Old Quater. Gara2 udah malam, mata jadi siwer dan kita menyetop taksi yang bukan yang direkomendasikan bagi pendatang. Kalau di Vietnam, kami hanya naik taksi Mailinh atau Vinnasun. Blue bird-nya Indonesia deh. Udah nggak pake AC, argonya jalannya cepet banget. UDah gitu si supir selalu ngelirik ke spion dengan pandangan yang mencurigakan. Nggak lama dia telpon2. Waduh parno deh langsung. Gmn kalau kita dibawa ke tempat gelap trus semua harta diperetelin. Mending kalau cuma harta. Gmn kalau pake diperkaos kutang. Waduhhhhhhh, dengan pikiran makin parno, gw dan Mbak Bori memutuskan turun di tengah jalan sambil menunggu Mailinh tiba. Untungnya kita nangkring di pinggir jalan nggak lama. Sekitar 10 menit kami tiba di resto Bobby Chinn

Lokasinya sih keren. Kayak ada di daerah Kemang gitu deh. Di luar gerbang udah ada pelayan yang siap membantu. Sebelum masuk, kami sempat ceprat cepret di depan resto yang berlambang kacang polong kupas ini. Seperti pendatang baru, kami berjalan sdambil menatap ke arah lampion berwarna merah yang digantung di teras depan. Di dinding dipajang pigura kumpulan berita dan tulisan tentang Bobby Chinn. Biasanya mereka yang dateng ke resto ini reservasi tempat dulu. Karena gw main dateng aja, mangkal lah kami di ruang tunggu yang remang2 berhiaskan kelambu warna merah dengan pajangan alat buat shisha. Sambil nunggu, gw memeriksa buku menu. Di bawah tercetak jelas kalau Bobby Chinn adalah penggemar ABBA, Kenny G dan musisi Hippies seperti Bob Marley dkk. Jadi hanya musik2 ini aja yang bakal dipasang di sini. Nggak ada tuh lagunya Britney Spears atau Maroon 5 tiba2 diputer. Since I loved ABBA and Kenny G, so I have no problem at all with his music preference.

Harga makanannya cukup mahal buat orang Vietnam. pantesan aja tamunya kebanyakan expatriate atau pendatang yang penasaran dengan makanan racikan mas Bobby. Sebagai pembuka gw memesan Crab Trio yang menurut penjabaran di menu sounds facinating. Sebagai menu utama gw pesen Roasted Salmon with Wasabi Mashed Potato. Setelah bengong-bengong ngeliatin bar di bawah, kami dianter ke resto di atas. Dekorasinya perpaduan antara warna hitam dan abu dengan warna merah menyela. Dinding ditutup dengan kain berwarna merah menyala. Setiap meja dihiasi taplak warna putih dengan hiasan rose petal. Ngeliat dekorasi ini kok saya merasa Mas Bobby sedikit lebay dan memiliki kecenderungan tralalalalala deh.

Eniwei, the tralalalala is not important. Coz we are here to enjoy the food. Pesanan pertama yang datang adalah mint tea. Teh yang dipakai dilmah. Nggak surprise buat gw secara di rumah juga minum dilmah. Cuma buat segelas teh mint dilmah, harganya sedikit tinggi. Gw sudah tidak sabar mencoba Crab Trio. Setelah datang, ada crab cake, crab soup dan crab salad. Crab soup ditaruh di gelas expresso, jadi unik. Makannya seperti sedang meneguk segelas expresso di malam hari. Rasanya sedikit gurih dan encer. Ada potongan daging kepiting disetiap tegukan. Kalau dibandingkan dengan soup crab yang pernah gw coba di tempat lain, rasa crab soup di sini biasa aja. begitu juga dengan crab cakenya. Kurang nendang dan nggak membuat gw terpaksa menggigit kecil2 saking sayangnya menghabiskan makanan enak dalam waktu cepat. Crab saladnya sendiri lebih kerasa seperti asinan Bogor yang asam dengan tambahan kacang tanah tumbuk yang renyah.

Appetizer yang biasa aja membuat gw sangat tidak sabar untuk mencoba Roasted Salmon with Wasabi Mashed Potato. Gw memilih salmon yang nggak terlalu matang. Jadi masih bisa merasakan gurihnya salmon. Potongan salmon lumayan besar dan berwarna oranye menggoda. Warna mashed potatonya pun hijau muda manis. Jadi membuat air liur langsung mengucur. Since im a mashed potato lover, langsung lah gw menjawil mashed potato itu dan i love it in the first bite. Perpaduan antara wasabi dan mashed potatonya pas. Pedasnya rasa wasabi terasa kuat tanpa menimbulkan efek yang membuat mulut tidak nyaman. Perfect combination. Apalagi kalau dimakan dengan potongan daging salmon. Its just delicious. Bahkan tanpa pakai salmon, mashed potato ini tetep juara. Unik deh. Jadi inget dengan saus wasabi mayonaise di resto Syailendra-nya JW Marriot.

Jujur, although I love the mashed potato, gw masih merasa kalau bukan Bobby Chinn yang punya restoran, mungkin gw nggak akan makan di sini. Apalagi menghabiskan 35 dollar US lebih hanya untuk satu appetizer dan satu main course plus teh mint dilmah dan orange juice. Seriously. Tapi perasaan itu sedikit terhibur setelah gw masih ke toiletnya. Ada patung G-Spot dari besi yang dipajang di meja bersama bunga. Kamar mandinya dipenuhi dengan gambar2 dan it's a bisexual rest room. Artinya cowok atau cewek masuk ke kamar mandi yang sama. Dan kamar mandi inilah yang makin mengukuhkan dugaan gw kalau mas Bobby Chinn itu tralalalalalalala cyinnnnn.

Eniwei, sebagai pecinta makan, gw merasa cukup happy bisa mencoba makanan di restoran yang ditangani chef sepopuler Bobby Chinn. And jika Anda kebetulan datang ke Hanoi, nggak ada salahnya juga mampir ke restonya mas Cyinnn eh Chinn ini. Dan JANGAN LUPA nengok kamar mandinya dan foto bareng ama G-Spotnya. Judulnya dapet salam dari G-Spot.

Tuesday, October 27, 2009

Spooky Foody

Urban Legend di Indonesia yang berhubungan dengan makanan tuh nggak ketulungan banyaknya. Pernah denger dong cerita tentang resto mie yang sangat terkenal yang kabarnya memelihara tuyul dan pocong. Menurut mereka yang bisa ngeliat aka punya sixth sense atau eight sense, mereka melihat pocong2 yang meneteskan air liurnya di makanan yang tengah dimakan pengunjung di resto itu. Atau mungkin pernah denger juga cerita tukang sate atau soto yang terkenal yang tutup di hari tertentu. Konon kabarnya hari tutup itu merupakan saran dari dukun yang mereka pakai.

Biasanya, kalau denger cerita2 seperti ini gw cuma cekikikan doang. Sedikit nambah2in biar seru. Apalagi kalau kebetulan di situ ada temen yang latah. Makin seru kan ceritanya. Kenapa gw ngomongin hal ini? Bukan tanpa alasan. Tapi karena ini berkaitan dengan kejadian yang gw alamin di Pekalongan dan Solo beberapa bulan yang lalu. Pulang dari belanja batik (sebenernya orang lain yang belanja, gw cuma nemenin sambil bantuin ngangkutin barang, tepatnya), kami diajak makan di warung soto pinggir jalan yang konon sangat populer. Karena yang mengajak orang lokal, ya saya percaya saja. Warungnya suram dan berkesan tua. Ini bukan buat nakut-nakutin lho. Tapi bentuk dan rupa warungnya sudah tua. Kayaknya warung ini dah lama nggak dicat. Sebenernya, waktu masuk ke tempat ini, perasaan udah nggak enak. Di bagian depan, ditaro tumpukan mangkuk soto9 yang sudah diisi dan tinggal ditambahi kuah.

Dibagian dalam ada meja dan kursi panjang buat duduk pengunjung. Di atas meja ada banyak gorengan dan peyek. Nggak lebay, tapi tempat ini bener-bener membuat gw ketakutan. Nggak nyaman dan bulu kuduk berdiri. Rasa sotonya sih enak, tapi somehow gw tidak bisa menghabiskan makanan di sini karena rasa nyaman yang nggak terkatakan. Gw merasa ada yang mengawasi gerak-gerik gw selama makan. Betul-betul membuat gw pengen nangis saking stressnya. Sebelum pulang, gw merasa ingin memotret tempat ini. Begitu kamera gw keluar, pelayan langsung melarang gw memotret dengan wajah emosi. Makinlah gw ketakutan. Bukan karena takut dimarahi tapi otak parno gw melayang-layang membayangkan apa yang mungkin akan tertangkap oleh kamera gw ketika tombol dijepretkan. Saat itu juga gw langsung keluar dengan setengah terbirit-birit and I promised myself. Sekalipun Pak Bondan yang ngajak makan kesini dan merekomendasikan tempat ini, gw nggak bakalan lagi balik ke tempat ini. Cukup sekali saja.

Gossip of The Century



"Neng, Ibu kan diajak kawin. Udah ditawarin uang berapa ratus juta gitu," cerita Bibik dengan suara keras.
"Hah? Diajak kawin? Sama siapa? Kok nggak pernah cerita sih Ma?"
Mama yang baru keluar dari kamar langsung salah tingkah. Mukanya langsung merah merona. Matanya langsung melotot ke arah si Bibik yang masih cengar cengir sambil ngegendong anaknya.
Gw sendiri penasaran banget dengan gosip paling akbar di tahun ini. Nyokap gw dilamar orang. Omigod.
Gw nggak bisa lagi nahan rasa penasaran.
"Siapa sih Ma orangnya?
"Tau tuh. Mama kan lagi di bengkel. Trus ketemulah dengan orang itu. Ngajak ngobrol. Ya Mama ladenin aja dong. Namanya juga ngajak ngobrol. Eh dia tanya-tanya soal keluarga. Mama bilang kalau Mama ini udah Janda. Papa meninggal setahun yang lalu. Eh, tiba-tiba dia minta no tlp. Udah gitu dia telpon Mama n bilang dia mau nikah sama Mama. Malah dia bilang siapin duit beberapa ratus juta buat Mama," akhirnya Mama cerita juga.

Menurut cerita Mama, si Om Gaek yang berumur 55 tahun itu mengira Mama masih umur early 50’s. halah. Padalah udah punya KTP seumur hidup.
Si Om gaek itu tetep maju tak gentar walaupun tau mama lebih tua dari dia
"Ibu masih cantik kok. Nggak keliatan tua. Kayak masih umur 50an. Kulitnya masih bersih," rayu si Om versi Mama.

Jelas aja gw terkikik-kikik geli ngedengerin cerita Mama. Sementara Mama keliatan banget nggak nyaman dengan cerita itu. Mungkin makin nggak nyaman dengan cekikikan geli gw dan godaan-godaan gw yang emang nggak sopan banget.

"Mama kok nolak sih? Lumayan kan Ma. Dia mau ngasih duit berapa ratus juta buat Mama. Kalau Mama nggak mau, buat gw aja! Ha ha ha ha" gw ketawa cekakan.

"Ngapain Mama mau sama dia. Papa kamu jauh lebih ganteng dari dia. Enakan juga begini,"
Mama tetep aja ngejawab ocehan-ocehan gw yang tolol itu. Padahal dia tahu kalau niat gw cuma buat ngegodain dia doang.

Ternyata, walaupun sudah ditolak sekali oleh mama, si Om Gaek itu ternyata belum patah semangat. Dia masih aja mencoba untuk meyakinkan mama buat menerimanya.

Buat gw sih cerita ini lucu aja. Nyokap gw dilamar orang. Pake diiming2in duit ratusan juta pula. Gossip of the century banget nggak tuh.

Langsung dunk besoknya gw sms n cerita itu ke Tante Ucun untuk berbagi tawa. Tapi Mama langsung pasang ancang-ancang. Awas ya kalau cerita sama orang lain. (Doi malu ternyata Bho!)

Gw emang janji nggak cerita2 sama orang lain. Tapi Nyokap nggak ngomong kalo gw nggak boleh nulis di blog. Ha ha ha. Ngga mungkin dunk gossip semenggelikan ini nggak gw tulis dan gw abadikan sebagai gossip of the century.

Pic 1 : Me, Mom and Ucun

Pic 2 : Me and Mom